Jumat, 03 Juni 2022

Perjalanan Panjang Itupun Berakhir Di Ibukota

Perjalanan Panjang Itupun Berakhir di Ibu Kota 

 Catatan perjalanan Rengkampong Ani Paga 


 Jarum jam menunjukkan angka 8 am waktu Flores saat aku bersama pasukan keponakan mengantar aku menuju Komodo Airport di ujung barat pulau Flores. Aku kemudian didrop pada bandara termegah di Flores itu. Kondisi pandemi covid 19 yang telah berlalu membuat arus wisatawan kembali mengalir pada kota Labuan Bajo sebagai kota wisata premium di era milenial. Wisatawan mancanegarapun terlihat kembali mencicipi kemolekan pariwisata di pulau yang menyimpan sejuta keindahan alam dan budaya itu. Apalagi kalau bukan komodo sebagai trade mark industri pariwisatanya didukung keindahan alam serta budaya Flores yang membius para wisatawan dari belahan dunia.

 Kehidupan pariwisata kembali menggeliat di pulau Flores yang berbatasan langsung dengan provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Aku sendiri sempat menyambangi beberapa obyek wisata di pulau tercantik itu. Keindahan alamnya wow bikin betah dan nggak ingin balik ke markas di ibukota. 

 Saat itu  mengambil Labuan Bajo sebagai starting point ✈penerbanganku. Usai didrop keponakan aku memburu counter check in salah satu maskapai yang akan kutumpangi menuju ibukota Jakarta. Proses check in-pun berjalan lancar dan aku kembali menemui keponakanku yang menunggu di luar sana. Kekwatiran akan pelayanan buruk maskapai ini sempat terlintas dalam benakku. 

Tahun 2015 lalu menjadi moment terakhir aku menggunakan maskapai itu dan kini nggak ada salahnya jika aku mencoba kembali. Kali ini servicenya mematahkan dugaanku. Dia hadir on time menjemput para penumpang. Dalam boarding pass tertera kota pahlawan Surabaya menjadi transit penerbangan kami. Lunch box yang aku beli pada salah satu kantin di bandara Labuan Bajo berisi nasi ikan goreng plus lalapan kulahap habis. Beruntung aku sengaja membeli makanan itu. 

Kebiasaan maskapai itu tidak menyediakan makanan berat telah terekam jelas dalam benakku. Seorang pramugari cantik sempat melirik aksi makanku. Akupun melempar senyum manis padanya menyambut sapaan senyumnya. Entah mengapa, di tengah penerbangan terdengar pengumuman pulau Dewata Bali menjadi lokasi transit. Tak apalah toh aku bisa jalan-jalan manis di pulau bermayoritas agama Hindu dan terkenal dengan keindahan alam dan budayanya itu. Kamipun berhasil landing di bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. 

 Di bandara itu para penumpang sempat tertahan di dalam cabin. Kipas-kipaspun terlihat sempat menjadi atraksi dalam cabin. Suhu udaranya cuy bikin resah gelisah dan pada akhirnya pihak ground staff dari passenger handling di darat mengijinkan penumpang meninggalkan body pesawat itu kemudian dijemput shuttle bus menuju gedung terminal dan check in pada penerbangan berikutnya.

 Penerbangan menuju kota pahlawan sempat tertunda.beberapa penumpangpun melempar beberapa pertanyaan pada petugasnya. Lalulintas yang padat di bandara Juanda menjadi alasan pendingnya penerbangan kami. Anehnya, di tengah penantian kami kembali mengajukan pertanyaan seputar penundaan. Beberapa wisatawan asing asal Eropah dan Indiapun ikut gelisah. Lagi-lagi jawaban "runway rusak di bandara Juanda" menjadi alasan penerbangan kami tertunda. Okay-lah kalau begitu. Setelah menunggu ria kamipun berhasil diterbangkan menuju bandara di Sidoarjo Jawa Timur itu. 

 Lagi-lagi kami dijemput shuttle bus menuju gedung terminal bandara dan menembus pemeriksaan ketat X-Ray di gedung terminal bandara internasional itu. Dalam boarding pass tertera take off pada pukul 17.10 waktu setempat. Akupun menyempatkan diri memesan dinner menu seporsi nasi capcay pada Restaurant Bakmi yang tak jauh dari waiting room. Hingga waktu take off yang tertera dalam boarding pass pemberitahuan boarding timepun belum terdengar. 

Terlihat guratan resah gelisah terlukis di wajah beberapa penumpang. Bisik-bisik tetanggapun mulai terdengar. "Jangan-jangan lelet lagi jadwal penerbangan" demikian seorang penumpang berceloteh sembari melirik pada bagian informasi si maskapai. Petugas tak tampakkan diri pada counter itu. Beberapa penumpang menuju Balipun mengalami hal yang sama. Keberangkatannya menuju Bali tertunda. Iya deh sing sabar aja menunggu. Nasi capcayku yang terbungkus rapih tak kusentuh. Aku kwatir jika sementara makan berlangsung secara mendadak disuruh boarding. Aku mengisi baterai androidku hingga full. Benar saja penerbangan kami tertunda dua jam dari jadwal yang tertera dalam boarding pass. 

Saat take off aku menikmati penerbangan kendati rasa kesal berkecamuk di dalam dada. Yang penting sampai tujuan cuy. Nasi capcay kuembat dan disikat habis kemudian meluncur bebas menembus isi perutku. Aku kemudian berlarut dalam tidur dan mimpi indah bakal sampai dengan selamat di Jakarta. Angka 8 pm lebih kami berhasil landing di bandara Aerotropolis Soekarno Hatta Cengkareng itu. Menunggu barang bagasi tak begitu lama. Aku melangkah mencari taksi papan atas yang membawaku ke markasku. Terima kasih sang maskapai yang mengajarkan kami kesabaran panjang dalam touring sehari kendati sejatinya jika direct flight hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam penerbangan. 

 Oh la la Menguji kesabaran melewati ngomel-ngomel manja penumpang itupun menjadi indah pada saatnya. Happy monday

Menatap Senja Di Tanjung Bunga Labuan Bajo

Menatap Senja Di Tanjung Bunga Labuan Bajo; 

 Catatan pojok wisata Ani Paga 

 Jarum jam mulai bertengger di angka 4 pm tatkala keponakanku Nona Paga (petrasia krisolina) menjemputku pada rumah keponakanku yang satu lagi di kawasan Wae Kesambi Labuan Bajo. Adalah kak Waty Rachman seorang sosok yang rendah hati ❤๐Ÿ’ž sejak tahun 2021 mengundangku menyambangi Tanjung Bunga ๐ŸŒบ๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒทsebagai markasnya bersama suami tercinta kak Gabriel Mahal.

 Di bulan Mei 2022 sehari sebelum aku kembali mengangkasa menuju Jakarta akupun menghubungi kak Waty memberitahukan jika aku tengah berada di kota premium itu. Spontan, kamipun sepakat akan ๐Ÿšถ๐Ÿ‘ญbertemu di vila milik mereka di Tanjung Bunga yang berlokasi tak jauh dari Batu Gosok. Dari beberapa postingan kak Gabriel dan kak Waty aku terpesona pada keindahan Tanjung Bunga tentu saja membuat aku penasaran. 

 Kak Watypun secepat kilat share location padaku melalui aplikasi whatsapp chat. Akupun tak mau lama-lama mengaktifkan Global Positioning System pada androidku kemudian bersama keponakanku Nona Paga tancap gas menuju Tanjung Bunga. Tercatat 23 menit waktu yang harus kami lalui dengan jarak tempuh sejauh 9,5 km. 

 Menyusuri jalan berkelok di antara tebaran bukit cantik yang menghijau, memanjakan mata memaksa aku turun dari kendaraan roda dua untuk sejenak mencicipi keindahan tubuh bukit itu. Ah betapa aku sebagai orang Flores sangat mensyukuri anugerah terindah dari Tuhan pada pulau asalku itu. Adalah pohon lontar ๐ŸŒด๐ŸŒดyang tumbuh menjulang tinggi melambaikan tangannya padaku dari atas bukit berlatarbelakang laut biru ๐ŸŒŠ memaksa aku membidiknya. 

 Lagi-lagi cekrak cekrikku kembali beraksi menangkap keindahan alam Labuan Bajo. Kamipun kembali menarik pegas menuju lokasi ๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“yang dituju.Kendaraan kamipun merapat pada satu spot cantik yang belakangan bernama G Spot Tanjung Bunga itu. Entah Huruf G bermakna apa. Bisa jadi merupakan inisial nama kak Gabriel. Wow, pesonaTanjung Bunga is so amazing. Terlihat kak Gabriel sedang duduk santai mengawasi pembangunan cafe miliknya. Kamipun bersalaman. 

Kabarnya di lokasi ini banyak wisatawan berdiri menikmati sajian keindahan alam laut biru, Sunset kemudian bentangan langit ⛅⛅๐ŸŒ jingga yang memancar di sore hari. Tak lama berselang, kami menuruni jalan setapak menuju vila. Pohon ๐ŸŒณbidara yang cantik ditemani nyanyian burung Tanjung Bunga yang bertengger di pohon itu menyambut kehadiranku bersama keponakanku. Di sana terdapat beberapa jenis burung yang bersahabat. Sang nyonya kak Watypun menampakkan batang hidungnya dengan senyum manis ramah menyalami kami kemudian membawa kami pada vila. 

Wow, dari pelataran vila ini kami disuguhi keindahan pantai dan laut ๐ŸŒŠbiru yang sangat indah. Aku melempar pandanganku pada tatanan batu alam yang menempel pada dinding. Sangat artistik. Jendela yang terbuka terkesan menjadi frame menangkap sajian lukisan keindahan alam dan Sunset di luar sana. Kamipun diajaknya menjelajah kawasan Tanjung Bunga itu. Pondok kecil yang tak jauh dari vila menjadi spot cantik berikutnya yang kami datangi. 

Beberapa properti seperti tikar pandan khas Manggarai digelar, roka cepa (tas anyaman bambu) bernuansa etnik Manggarai terlihat melengkapi pondok itu. Tak ketinggalan ijukpun menghiasi tiang pada pondok itu. Back to nature demikian konsep yang mereka gunakan sesuai selera wisatawan jaman now terutama wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik dari kota besar seperti Jakarta yang haus keindahan alam ๐ŸŒฟ๐Ÿƒ. 

 Akupun beberapa kali mendapat serangan pertanyaan " koq bu Ani kalau ke Flores sering foto alam? ๐Ÿ“ท๐Ÿ“ท". Akupun menjelaskan ' kami di kota besar haus dan lapar keindahan alam seperti pulau Flores. Di Jakarta tak ada pemandangan alam seindah pulau Flores. Air laut Jakarta itu berwarna hitam pekat akibat timbunan sampah yang mengalir termasuk limbah pabrik yang tak terkendali mengotori air sungai yang mengalir menuju laut. Langit Jakarta itu sudah tak lagi membiru. Polusi udaranya kian parah dengan tingkat pencemaran yang tinggi" 

 Merekapun manggut-manggut mendengar ulasanku. Jakarta sebagai kota terpadat menyumbang kualitas udara terburuk dengan konsentrasi rata-rata PM 2,5 tahunan di tahun 2021 adalah 39,2 mikrogram/M3.Disinyalir melebihi pedoman Badan Kesehatan Dunia PBB yakni WHO. Maka tak heran, jika polutan ini berimbas pada munculnya efek negatif bagi gangguan kesehatan penduduk Jakarta seperti penyakit jantung, stroke, asma, gangguan paru-paru bahkan hingga berujung pada jutaan kematian setiap tahunnya. 

 Kembali pada Tanjung Bunga.

 Dari pondok kecil kamipun diajak kak Waty home touring pada seputar dapur tempat masak, pantri yang menyatu dengan ruang makan terbuka. Kamar tidur mereka tersembunyi di bagian belakang dapur dengan kasur beralaskan lantai. Hembusan angin laut menembus hingga ke kamar tidur private itu.

 Wah benar-benar konsep desain rumah yang bersahabat dengan alam dan ramah lingkungan. Kamipun disuguhi minuman hangat kopi Manggarai yang lezatooo nikmatnya, black Forest dan pisang rebus. Dari sini sejenak kami ngobrol di bawah teduhan pohon bidara. Di atas atap pohon tergantung beberapa Potang (rumah ayam ๐Ÿ”๐Ÿ“; bahasa Manggarai-red). 

Senjapun menjemput dan ๐Ÿ“๐Ÿ”๐Ÿคayam-ayam itu berterbangan kemudian bertengger di atas pohon bersama potang seakan ikut menyimak obrolan kami. Kak Gabriel masih asyik menyiram tanaman bunga dan sayuran yang ditanamnya. Telaten banget ya kak. Gambaran seorang advokat yang rendah hati dan peduli lingkungan hidup. 

 Senja kian merapat dan langit jinggapun menyapa kami. Segerombolan tamu berikutnya datang bertandang ke Tanjung Bunga. Kak Waty menyempatkan diri menyuguhi mereka minuman kemudian kak Waty bersama kami pamit pada kak Gabriel. Kamipun bergegas menuju mobil mereka yang terparkir di atas sana dan tancap gas menyusul keponakanku Nona Paga kembali ke tengah kota Labuan Bajo. 

Kak Waty kembali menawariku agar menginap di Tanjung Bunga pada kedatanganku berikutnya. Boleh deh kak merasakan angin laut segar ๐Ÿƒ๐Ÿ’ฆTanjung Bunga di malam hari kemudian bercengkerama dengan birunya laut ๐ŸŒŠ. Atas permintaanku, Kak Watypun menurunkan saya di kampung Ujung. Nona yang dengan sabar menungguku mengajakku menikmati Water Front Labuan Bajo yang terbentang di tepi pantai kota di ujung barat Flores itu. Sementara keponakan yang satu lagi Efrida Yanti bersama suami dan anak-anaknya tak sabar lagi menunggu kehadiranku dalam acara makan malam bersama mereka di rumah kediaman mereka pada kawasan Wae Mata Labuan Bajo. 

 Terima kasih pada kak Gabriel, kak Waty, Nona Paga, enu Efrida, enu Bety Paga, nana Beny, enu Nitha Bethan, nana Jhoze Paga, nana Altu juga adik Chris

Todo; Jejak Kampung Tradisional Jejak Budaya Manggarai Masa Lalu

Todo; Kampung Tradisional Jejak Budaya Manggarai Masa Lalu.

 Catatan pojok budaya Ani Paga 

 Todo merupakan satu kampung yang berlokasi di Satar Mese Barat Kabupaten Manggarai pulau Flores provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari Ruteng sebagai pusat ibukota kabupaten, kampung Todo bisa ditempuh jarak sejauh 46,4 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, 25 menit. Selama perjalanan menuju kampung ini banyak pemandangan alam indah yang membuat mata enggan terpejam. Pokoknya asyik banget. 

Saya sendiri pernah menyambangi Todo di tahun 2004 saat terlibat dalam kegiatan politik seorang anggota DPR RI dan berhasil mengantarnya duduk di kursi emas gedung yang mulia Senayan Jakarta. Memasuki kampung ini aku terpesona dengan bebatuan dengan permukaan ceper yang tertata indah. Sayapun melempar pertanyaan pada seorang pak tua yang merupakan tokoh adat di rumah adat Todo seputar bentuk batu yang ceper pada halaman kampung itu. Jawabannya membuat aku kagum.Betapa tidak, kebetulan leluhurku dari pihak ibu yang bernama popo Kanta berasal dari kampung ini. Si pak tua menjelaskan kalau batu rata yang menghiasi wajah kampung itu berfungsi sebagai keset untuk membersihkan kaki para tamu atau para pegawai kerajaan sebelum memasuki rumah adat itu. 

 Wow betapa luhurnya budaya nenek moyangku. Meriam tua terlihat menjadi properti halaman kampung ini. Tidak salah, Todo merupakan pusat kerajaan di masa silam sebelum pindah ke Ruteng. Akupun mengeluarkan beberapa lilin dari dalam tas ranselku kemudian kunyalakan lilin itu pada kuburan tua yang merupakan makam leluhurku. 

 Rombongan kamipun memasuki rumah adat dan kamipun menyerahkan beberapa botol beer pada tokoh adat. Merekapun menyambut kami dengan hangat. Tak lupa tatanan gelas yang berisi minuman kopi Manggarai mendarat di depan kami. Kamipun menikmatinya dengan senang hati. Rasanya boooo beda banget pokoknya sensasi kopi Manggarai Flores enak di lidah menembus isi perut dalam kelelahan. Gluk gluk gluk nikmatnya lezatooo. 

 Seekor ayam ๐Ÿ”๐Ÿ“๐Ÿค dipersiapkan untuk menyambut kami dan kemudian dibuat acara pemotongan ayam yang akan dipersembahkan pada leluhur dalam acara teing hang (sesajen; persembahan pada leluhur). "Boto manga babang agu bentang" demikian satu kalimat yang keluar dari mulut sang tokoh adat yang maknanya agar leluhur kami tidak kaget serta menerima maksud baik kedatangan kami. Pandanganku kuarahkan pada seluruh sudut ruangan. Satu rumah ini dihuni beberapa keluarga dan tentunya memiliki kamar tidur yang mengelilingi ruang utama. Sangat eksotik interiornya. 

 Di sini masih tersimpan sejarah masa lalu berupa Gendang Loke Nggerang yang terbuat dari kulit perut seorang gadis asal Ndoso Manggarai Barat yang menjadi korban perebutan cinta antara kerajaan Bima di pulau Sumbawa, Goa di Sulawesi serta raja Todo di Manggarai Flores. Kata Loke dalam bahasa Manggarai Flores memiliki arti sebagai Kulit dan Nggerang diterjemahkan sebagai memancarkan cahaya. Konon kabarnya sang putri bidadari cantik yang merupakan putri dari bu Hendang dan pak Awang ini pada punggung serta perutnya memancarkan cahaya hingga ke langit. 

Hingga kini gendang itu masih tersimpan dengan baik. Untuk memperlihatkannya pada pengunjung sebelumnya dilakukan acara adat. Hingga kini beberapa rumah adat berarsitektur budaya asli Manggarai masih berdiri kokoh di kampung ini. 

Selain Todo, kampung Wae Rebo yang kini masuk dalam deretan catatan UNESCO sebagai warisan dunia ๐ŸŒdalam kebudayaan merupakan satu kampung tradisonal yang ramai dikunjungi wisatawan. Coba, pulau Flores kurang apa dalam keindahan. Ngapain jauh-jauh jalan-jalan ke luar negeri. Ke Flores aja. Flores itu sangat eksotik, percaya deh pada omongan gue. Kamu nggak bakal nyesal keluarin duit. Recomended banget buat kamu-kamu yang suka traveling rame-rame atau backpacker. Elu sih nggak percaya omongan gue. Sini join aku ke Flores. yukkk Happy sunday. Thanks to nana Gusti Rumat sumbangan fo

Jangan Menghukum Alam Karena Alam Kan Menghukummu

Jangan Pernah Menghukum Alam Karena Alampun Akan Menghukummu. Part 2.

 Tangisan rindu pencinta alam Writer : Ani Paga 

 Mobil Avanza itu melaju kencang dengan kecepatan 60 km per jam. Udara segar pada pinggir area hutan itu membuatku semakin bergairah menelusuri lebih jauh, mencicipi keindahan alam di hutan itu. Aku yang selama puluhan tahun tinggal di Jakarta tentu saja sangat menikmati udara hutan yang sejuk kendati tak sesejuk masa kecil kami dan tak kutemukan di ibukota negara.

 Kalau di Jakarta terdapat beberapa pohon tinggi pada satu kawasan konservasi toh tak seberapa banyak dan tak mampu menyerap air hujan dengan volume lebih banyak ke dalam tanah yang bisa diharapkan menjadi sumber air. Jakarta telah berubah wajah menjadi kota metropolitan yang super padat, dipenuhi kerimbunan gedung pencakar langit dengan kualitas udara yang super buruk dan lagi-lagi polusi udaranya bertengger di angka ketiga sebagai kota terpolusi di dunia setelah Dumai dan Beijing. 

 Kuarahkan driver untuk terus memasuki kawasan hutan itu. Terlihat beberapa pohon kopi warga sekitar hutan memenuhi areal hutan itu. Kawasan yang dahulu dipenuhi pohon besar sebagai kawasan resapan air tanah kini telah berganti menjadi kebun kopi yang dikelolah beberapa warga yang berdomisili tak jauh dari hutan ini. Aku mengajak driver itu menelusuri sumber mata air yang biasa kami jadikan rest area tatkala melakukan perjalanan dari desa menuju kota bahkan sebaliknya. Rest area hutan di Flores yang dulu sejuk ditemani gemercik air sungai yang mengalir, menenangkan jiwa, mengalir indah kini kharismanya tak seindah dulu. Lagu gemerciknya tak lagi bergaung mengalun indah seperti dulu saat usiaku masih remaja SMP. 

 Beberapa pohon besar dan tinggi tak lagi menghiasi wajah hutan ini. Aku menggelengkan kepalaku berulang. Betapa tidak, hutan yang dulu sejuk dengan udara yang dingin tak lagi terasa. Kalau toh masih terlihat pohon tinggi radiusnya cukup jauh dari jalan raya. Nyanyian dengan nada-nada indah burung Ngkiong yang dilengkapi perfom indah para monyet bergelantung kemudian membuat atraksi melompat antar pohon tak lagi bisa kami nikmati. 

 Andai saja konser para monyet dan burung Ngkiong sebagai spesies tetap hutan ๐ŸŒฒ⛳itu masih tersaji, kami kan betah berada di hutan itu menjadi penonton setia atraksi seni mereka. Tapi sayang saat itu kami hanya bisa menyaksikan atraksi bisu pohon-pohon yang tak lagi tinggi, kesunyian hutan yang tak lagi berirama, menonton atraksi air mengalir yang tak lagi menampilkan gemercik dalam nada indah, tak lagi menjadi pelepas dahaga yang sejuk. 

 Jangan heran kalau debit air berkurang dan tak mampu lagi mengairi sawah-sawah parah petani, tak lagi bisa menyiram kesejukan pada petani tanaman hortikultura, tak lagi mencukupi kebutuhan air minum para penduduk, tak lagi memenuhi kolam ikan para pembudidaya ikan air tawar. Banjir dan longsor di musim hujanpun mengalir seenak judelnya meluluhlantahkan pertahanan penduduk, merusak lingkungan hidup, merusak tanaman pertanian, merusak, menjungkirbalikkan rumah penduduk kemudian mengalirkan material rumah bersama bebatuan pada semua tujuan tanpa kenal batas ambang dan lagi-lagi manusia yang menjadi pelaku perusak hutan menjadi korban keganasan angkara murka sang penguasa hutan. 

Hutan dan manusia memiliki hubungan simbiotik yang harusnya tetap terjaga. Hutan ibarat rumah lestari yang dikuasai pemiliknya. Dia pun tak ingin kalau istananya dirusaki tangan-tangan jahil menebang sesuka hati tanpa berupaya menanam kembali. Penguasa hutan tentu saja akan menebarkan angkara murka jika Putrinya Molas Poco ( pohon tinggi dan berdiameter besar) ditebang, digotong tanpa seiijinnya. Demikian pesan indah sang pemilik hutan yang menembus sukma kami. 

 Harapan kamipun pupus dan memutuskan kembali pulang mengayunkan langkah, membawa pulang asa yang tak berujung kembali pada mobil ๐Ÿš˜๐Ÿš—yang terparkir di pinggir jalan kemudian menarik pegas, meluncur dalam kecepatan tinggi menuju kota tempat tinggal kami.

 Janganlah menghukum alam, jika dirimu tak mau dihukum ๐ŸŒฟ๐Ÿƒalam. Ayooo kita kembali menanam pohon ๐ŸŒณ๐ŸŒฒ๐ŸŒด agar bumi ๐ŸŒŽ๐ŸŒdan hutan kita kembali lestari, mengurangi menipisnya lapisan ozon yang kini kian parah memanasi bumi dengan suhu udara ☁yang super ☝๐Ÿ“ˆtinggi dan menghancurkan kehidupan penghuni bumi. # If you cut a tree, you kill a life # Plant a tree, so the next generation can get a free fresh air # Don't make trees rare, keep them with care # Trees On, global warning Gone # Take care the trees, they will take care to you 

Rabu, 02 Maret 2022

Kepala Burung; Siapa Yang Punya

Catatan wisata alay ala rengkampong Ani Paga 

 Jalan-jalan ke Raja Ampat belumlah lengkap jika anda tidak menyempatkan diri menikmati hutan Papua yang sejuk, menyajikan udara super segar di Kepala Burung itu. Gemercik air mengalir ditemani kicauan aneka burung mampu melepaskan semua kepenatan anda setelah bertarung dengan aktifitas harian terutama bagi anda yang menjadi penghuni kota super sibuk seperti Jakarta. 

 Dari Jakarta, anda nggak Perlu susah pake mikir menggunakan armada transportasi apa menembus pulau Burung itu. Bandara termegah ; Domine Eduard Osok Airport Sorong yang didukung run way sepanjang 2.060 meter serta lebar 45 meter itu akan siap menyambut anda dengan ramah. Bandara ini menjadi meeting point bagi saya dan teman-teman yang mengikuti tour Sorong dan Raja Ampat. Sebelumnya saya diundang pihak terkait menjelajah semenanjung kepala Burung itu. Saya mah paling doyan menikmati burung๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ ( pengamatan burung hutan maksudku. Awas kalau punya asumsi yang berbeda hehehehe). 

 Dari bandara itu rombongan kami digiring menuju kawasan hutan seluas 945,9 hektar di Taman Wisata Alam Sorong yang berjarak 14 km dari kota. Taman Wisata Alam yang kini dikelolah Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (USDA) itu dibangun tahun 1981. Aktifitas wisata yang disajikan di sini beragam. Selain mengamati tingkah pola para Burung, kamipun menikmati aneka flora dan fauna yang sangat beragam dan menarik. Sang burung sepertinya paham kalau wisatawan yang hadir merupakan pencinta burung termasuk aku tentunya. 

Paduan nada dan kemolekannya itu loh yang bikin aku wow excited pada species itu. Beberapa jenis reptilepun hadir di sini tapi dijamin cukup ramah koq. Dari 30 total jenis reptile 34 persennya tersebar di Papua Barat. Wow ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜. Aktifitas river trekkingpun bisa dilakukan di sini. Nggak percaya? Sini bareng tante eh salah bareng kak Ani hehehehe. Amati burung ya. Bersedia kan? Hehehehe. Ekologi, wisata dan budaya menjadi daya tarik utama di kawasan ini. Beberapa pohon diikat tali merah oleh penduduk local sebagai rambu agar pohon jenis itu tidak boleh ditebang. Hmmm kearifan lokal dan peradaban orang Papua sangat tinggi. 

Jangan pernah anggap remeh orang Papua. Bahkan untuk menangkap ikan saja tidak boleh memburu ikan yang besarnya melebihi ukuran tiga jari. Peraturan adatnya sejak dahulu kala sudah menetapkan demikian. Keren kan orang Papua?. Yang menarik di sini juga terdapat Rumah Herbarium Anggrek yang digunakan sebagai atraksi wisata education; invetarisasi beragam jenis anggrek di Papua Barat. Tak tanggung-tanggung 90 jenis anggrek menampilkan keindahan tubuhnya di Taman Wisata Alam Sorong. 

Moyorium adalah satu jenis anggrek yang namanya diambil dari bahasa setempat. Kelompok Tani Hutan juga siap menghadang anda yang berniat mencuri flora, fauna bahkan menebang pohon di area ini. Awalnya di antara mereka merupakan pemburu liar yang kemudian melebur menjadi pengawas hutan. Tentu saja sebelumnya mereka diberi pelatihan khusus dalam pengawasan hutan. Pada jaman dahulu penduduk lokal membuat jalur air secara vertical.

 Oh ya, di sini terdapat madu yang sangat enak dan bermanfaat bagi kesehatan. Harmoni alam di sini sangat kuat membentuk simbiotik mutualisme. Pohon dan kayu menjadi papan pelindung kehidupan manusia Papua, buahnya menjadi pangan dan seratnya menjadi sandang. Coba kurang apa lagi. Peradaban orang Papua sekali lagi sangat tinggi sejak tempo doeloe. Di sini juga terdapat hutan perempuan yang dirawat kaum perempuan secara turun temurun. 

Konon, kabarnya ketika lelaki memasuki hutan mendapat sanksi berupa bayar denda adat. Para mama biasanya mencari kepiting di area ini. Papua Barat merupakan hutan mangrove terluas di Indonesia yang juga berfungsi sebagai rumah para burung, ikan, using, kepiting serta jenis reptil juga aneka flora. Menariknya jalan-jalan di sini para wisatawan diajak menanam kembali pohon-pohon. 

 Dari Sorong wisatawan diajak berlayar menuju Raja Ampat. Hamparan pulau-pulau cantik seakan sengaja berderet menyambut wisatawan. Konon, katanya jaman dahulu orang Papua menggunakan panah dalam berperang. Anak-anak panah yang jatuh ke laut itu menjelma menjadi pulau-pulau cantik yang berdiri ramah di utara Kepala Burung pulau Papua itu. 600 jenis terumbu karang terdapat di sini, 57 jenis udang tersaji di kawasan ini, 1320 species ikan memenuhi surga wisata laut ini. Semuanya menjadi situs fantastis bagi penyelam dunia. Komunitas penjaga lautpun siaga di sini. Hari minggu dilarang melaut. "Kamu Orang makan Bukan hanya untuk hari ini saja, tetapi untuk kamu punya anak cucu di masa depan" Demikian pesan kepala suku.

Selasa, 18 Januari 2022

Terbang Di Angkasa Dalam Posisi Pesawat Udara Miring? kendalikan Kepanikanmu


Catatan Perjalanan  Ani Paga


Beruntung baksonya telah dilahap habis ketika gaungan sirene membahana pertanda pesawat yang akan mengangkut  kami ke Makasar akan tiba. Ah aku menghabiskan segelas  minuman teh manis hangatku. 


Temanku menggendong ransel, mendesakku segera angkat kaki. Yoi, let's go to fly.


seperti biasa kami melewati pemeriksaan X Ray di gedung terminal. Lagi-lagi senyum cantik sang petugas perempuan disodorkan pada kami. Tak ketinggalan petugas priapun ikut sibuk memeriksa kami. 


Taraaaa

Kamipun lolos masuk ke waiting room terminal bandara Tampa Padang Mamuju..


Pesawat yang ditunggupun menampakkan batang hidungnya di runway kemudian menampilkan lekukan tubuhnya menari menuju taxi way.  30 menit kemudian panggilan boardingpun bergema di waiting room memanggil para penumpang menuju Makasar. 


Di gate 1 boarding pass kami diperiksa. Kami mengayunkan langkah menuju pintu pesawat  kemudian mencari tempat duduk sesuai  seat number yang tertera dalam boarding pass.


Waktu take offpun akan tiba. Pramugari terlihat huru-hara menutup pintu pesawat. Pengumuman dari cockpitpun terdengar tak lazim; sangat tergesa-gesa. 


Pesawat kami akhirnya lepas landas dan terbang bebas. Baru saja 15 menit mengangkasa kami merasakan sesuatu yang aneh. Pesawat kami terbang oleng dan miring ke kanan kemudian berputar balik menuju bandara Tampa Padang Mamuju. 


Para penumpang tentu saja panik dan berteriak histeris. Guncangan  burung besi itu menakutkan. Suasana dalam cabin sangat mencekam. 


Aku berusaha mengendalikan kepanikanku dengan menarik rosario dari dalam hand bagku. Butir demi butir aku panjatkan hingga menyelesaikan butiran pada peristiwa kelima Aku meminta sabda Tuhan atas permohonanku. 


"Jangan takut Ani, pesawat  ini masih  bisa diperbaiki dan diterbangkan kembali" demikian bisikkan Tuhan yang hadir melalui suara hatiku. Tentu saja, sabdanya membuat aku tenang dan kepanikanku bisa kukendali. 


Aku tengadah dan melemparkan pandanganku keluar jendela, bentangan alam pegunungan di luar sana yang indah ikut mendukung proses pengendalian kepanikanku. Kendati demikian sempat terbersit jika saja pesawat kami mengalami ✈airplane crash bisa dibayangkan anggota tubuh kami terserak di antara tebing curam dan menembus dataran rendah. Ahhh sangat menyeramkan. Oh no. 


Aku kembali mengarahkan kedua bola mataku pada seluruh sudut ruang cabin. Suasana mencekam dengan histeria penumpang masih menggema. Aku berhasil menenangkan penumpang di sampingku dari kepanikkannya. 


Terdengar pengumuman terjadi kerusakan teknis pada salahsatu mesin pesawat tipe ATR 72 itu. 


Aku terus mengamati laju pesawat menuju Mamuju. Akhirnya kamipun berhasil mendarat di Bandara Tampa Padang. Kamipun berhamburan keluar dari body pesawat. 


Di waiting room terminal kami kembali berkumpul menenangkan diri sembari menanti pesawat pengganti yang menerbangkan kami menuju Makasar.


Sementara pesawat itupun diperbaiki dan puji Tuhan pesawat itu kembali diterbangkan menuju Balikpapan. Seorang penumpang perempuan memutuskan batal terbang bersama kami. Dia memilih kembali ke rumahnya di kota Mamuju. 

Kami menunggu pesawat pengganti dengan jenis yang sama menuju Makasar.


Agak lama kami menunggu. Pesawat itupun mendarat di bandara setempat. Di tengah sisa  kepanikan yang melanda kami berusaha menenangkan diri dan kembali memasuki pesawat. Penampilan body pesawat memang terlihat lebih baik dari pesawat yang sebelumnya. Kamipun terbang mengangkasa sembari menikmati keindahan pantai dan alam pegunungan Sulawesi dan sukses landing di bandara Sultan Hasanudin Makasar. 


Di bandara ini aku sempat menikmati sop konrow masakan khas Makasar. Maknyosnya dapat banget, enak di lidah. 

Tak lama berselang kami diperintahkan segera hengkang dari restaurant kemudian melangkah menuju waiting room untuk selanjutnya kembali terbang menuju Jakarta menggunakan maskapai yang berbeda. 


Tentu saja doa menjadi menu utama sebelum terbang. Puji Tuhan kamipun berhasil landing di bandara aero tropolis Soekarno Hatta Airport Cengkareng Jakarta. 


The end✈️✈️✈️✈️✈️✈️

Kamis, 09 Desember 2021

Eksistensi Janda; Antara Peran Ganda Dan Rayuan Genit


 


 

Catatan Rengkampong Ani Paga

 

Saat Sebeth Lasarpandang  baru saja membuka media sosial, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan bunyi messenger yang membangkitkannya dari lamunan mengenang kembali almarhum suaminya. Seorang silent reader berjenis kelamin pria menyapanya, mengajaknya berkenalan. Tentu saja  Sebeth tak langsung merespond tawarannya. Sebeth Lasapandang diam-diam menyingkap profil sang pria, menyelidiki aktifitasnya di media sosial. Pria berkulit putih, berambut lurus, berhidung mancung mirip pria timur tengah inipun terus mendesak Sebeth  dengan berpura-pura berempati  terhadap duka Sebeth  kehilangan suami. Kalimat turut berduka citapun meluncur bebas dari mulut pria bertubuh jangkung ini  Tentu saja, Sebeth  memberi reward terhadap atensinya. Dari obrolan yang menarik keduanya sepakat untuk bertukar nomor kontak. Obrolanpun berlanjut di aplikasi whatsapp.

Dengan dalih mengajak Sebeth  berbisnis pria beristeri ini meminta Sebeth Lasarpandang  bertemu pada salahsatu restaurant bahkan beberapa kali dia berniat menyambangi  Sebeth   di tempat tinggal perempuan beranak satu ini. Sayangnya hingga tulisan ini diturunkan Sebeth  belum memenuhi permintaannya bahkan bertemu dengannya  tak dilayani Sebeth . Berbagai rayuan mautpun melayang ke arah Sebeth Lasarpandang, lagi-lagi peluru yang akan diberondongnya salah sasaran.  Sebeth  tetap bersikukuh untuk tidak bertemu dengannya. Alasan Sebeth  sederhana saja; , menjelekkan isterinya sendiri di hadapan perempuan lain bukanlah suatu sikap elegan seorang pria yang berstatus suami orang yang digunakannya sebagai peluru untuk merayu perempuan lain. Sikapnya sangat tidak bijak. Alih-alih bisnis  justru bertujuan lainpun, akhirnya berantakan. Sebeth  memutuskan tidak berbisnis dengannya.

Seorang janda lainpun memiliki kisah yang tak jauh berbeda. Perempuan ini sebut saja namanya  Mina Ringkikik mendapat rayuan seorang pria hidung belang yang masih berstatus suami orang. Mina janda cantik berbalut kulit putih bersih, berambut panjang ini bahkan diajak menikah seorang pria yang dikenalnya melalui salahsatu aplikasi media sosial. Mina akan dijadikannya sebagai isteri kedua dan menikah secara sirih. Pria ini mengaku memangku  satu jabatan strategis  di kantormya ternyata merupakan satu modus operandinya meraih cinta perempuan. Sejatinya pria ini tidak memiliki pekerjaan tetap. Tercatat deretan panjang perempuan dipacarinya dalam waktu bersamaan. Pria ini bahkan berani menjual janda ini pada pria muda untuk dijadikan teman free sex di akhir pekan. Tentu saja sikapnya demikian mendapat perlawanan dari Mina Ringkikik. Perempuan janda ini bersikap tegas melepaskan diri dari cengkraman lelaki itu. Komunikasi merekapun putus total

Rumah tangga merupakan kelompok primer dan merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memainkan peran penting terhadap dinamika kehidupan sosial. Suami dan isteri tentu saja memiliki peran masing-masing. Suami yang berperan sebagai kepala rumah tangga, mengayomi, melindungi keluarga menafkahi keluarga, menjadi imam keluarga sementara isteri betanggungjawab pada peran domestic mengurus anak dan rumah , melayani kebutuhan suami  namun seiring meningkatkan kebutuhan ekonomi rumah tangga seorang perempuan dituntut bisa berperan di luar rumah dengan berkarier di luar rumah. Ketika perceraian atau ditinggal mati seorang perempuan menikah berubah status menjadi janda.

 Terminology janda  mengacu  situasi pada perempuan  yang tidak bersuami karena ditinggal mati atau bercerai hidup  serta tidak lagi terikat dalam hubungan heteroseksual dengan pasangan hidupnya. Mendapat gelar janda tentu saja bukan impian yang menggiurkan bagi semua perempuan bahkan tak ada satupun perempuan yang berniat menjadi janda. Cerai hidup atau cerai mati  merupakan satu situasi yang terpaksa menempatkan perempuan menikah pada posisi janda.

 Seorang isteri  yang tadinya berfungsi sebagai tulang rusuk pasangannya, saat ditinggal suami diapun harus menjadi tulang punggung keluarga. Bebannya berlipat ganda pada ruang domestic yang berkiprah pada seputar rumah  dan extra domestica  dengan berkarier di luar rumah . Seorang janda harus memainkan peran mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya, menjadi pelindung, pendidik bagi masa depan anaknya, Berbagai carapun ditempuhnya mengerahkan seluruh kekuatannya demi kebahagiaan keluarga serta dirinya sendiri.Peran seorang jandapun menjadi sangat kompleks.

Tak jarang ketika menjalankan peran extra domestica perempuan janda dihadapkan dengan stereotype negatif yang berdasarkan asumsi pribadi semata. Janda seringkali  berhadapan dengan stigma buruk serta seksualisasi janda.   Janda dianggap perempuan genit, murahan yang haus belaian kasih sayang, layak dirayu bahkan dicurigai bakal sebagai pelakor yang bisa merusak rumah tangga orang sehingga pantas dihindari, kehilangan pasangan hidupnya dianggap sebagai sosok yang tidak sempurna, yang tidak berdaya,  gerak-geriknya kerapkali dicurigai, kemudian dijadikan bahan pergunjingan para insan yang hoby bergosip ria. Eksistensi janda seringkali mendapat pelabelan negatif dan dilihat menjadi obyek yang menarik, yang mudah digoda, bahenol, janda bohay, dipandang hina bahkan pada kasus cerai hidup  janda dikonotasikan sebagai sosok yang gagal mencari solusi atas kisruh rumah tangganya. Konstruksi budaya yang demikian membuat janda enggan bersuara, dia menelan pil pahitnya seorang diri.

Narasi negatif terhadap janda acapkali berbuntut pada penempatan janda sebagai kaum termarjinal. Perlakuan seperti ini tak jarang membuat janda kehilangan percaya diri, menarik diri dari lingkungan sosial, serta kehilangan motivasi  dalam hidupnya.Janda ah janda.

Dalam system yang menganut budaya patriarki pada kasus tertentu janda yang tidak memiliki anak cenderung  mendapat perlakuan tidak adil dari keluarga suaminya. keluarga suaminya memutuskan hubungan keluarga dengannya. Perkawinannya yang semula dirajut secara hukum dihempas begitu saja.. Saya menemukan beberapa  kasus seperti ini pada beberapa perempuan janda yang hidup seorang diri setelah ditinggal mati suaminya,  janda tidak diberi akses ekonomi untuk menguasai hak warisan orangtua suaminya.

Tidak semua pria memberikan strereotype negative terhadap janda, seorang sahabat saya Martin W  asal Papua yang merupakan magister jebolan Eropah melihat janda yang ditinggal mati pasangan hidupnya sebagai sosok yang hebat karena melewati sebuah proses hidup yang luar biasa. Sementara pada perceraian  dilihatnya sebagai kumpulan orang gagal yang tidak mendapatkan solusi atas timpahan persoalan rumah tangga. Janda  dipandangnya sebagai sosok hebat ; mampu menjalankan dua peran sekaligus yakni peran domestic dan extra domestica. Secara fisik dan mental dia melihat janda lebih stabil ketimbang pria.  Dia memandang adanya a person  triple job pada janda mandiri yakni bertanggungjawab terhadap diri sendiri, anak dan masa depan anak. Di luar sana terdapat banyak perempuan janda yang mampu hidup mandiri secara ekonomi, sosial politik,

Dikatakannya adalah perilaku minus oknum janda yang mengarah pada money oriented merupakan salasatu pemicu yang mengundang hadirnya stigmatisasi buruk terhadap janda. Martin tidak sepakat dengan pria hidung belang yang melihat stigma buruk sebagai exploitasi materil serta seksualisasi  terhadap janda. Menurutnya lelaki harus membangun komunikasi serta interaksi yang memiliki nilai tambah secara psikologis. Take and give menjadi tanggungjawab bersama dengan demikian terjadi keseimbangan komunikasi. Seorang janda demikian menurut Martin harus meningkatkan kualitas secara personal, harus memiliki kecerdasan extra sebagai senjata menangkal stigmatisasi buruk.  

Tindakan preventif tentunya dibutuhkan untuk meminimalisir strereotype terhadap janda itu sendiri. Janda harus berani bermigrasi untuk keluar dari pelabelan negatif terhadap dirinya. Seorang janda asal Banten mengatakan janda lebih riskan terhadap godaan pria hidung belang. Menghadapi godaan sosial seperti itu maka harga diri seorang janda menjadi taruhan dan merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar, seorang janda harus memperketat pengawasan terhadap dirinya sendiri, lingkungan akan aman bilamana janda itu sendiri menempatkan dirinya secara proporsional.

 

Semoga bermanfaat

 

 

 

Cear Cumpe; Narasi Syukuran Kelahiran Anak Dalam Budaya Manggarai

Catatan pojok budaya Ani Paga Jarum jam menunjukkan angka 9 am. Pemimpin upacara adat menyambut hadirin dengan menyodorkan sebo...