Jumat, 03 Juni 2022

Telur Sang Buaya Darat; Icip-icip Wisata Flores

Telur Sang Buaya Darat; Icip-icip Wisata Flores. 

 Catatan rengkampong Ani Paga. 

 Flores itu menggetarkan jiwa Flores itu memanjakan mata Flores itu make your Mind be fresh Flores itu a real flower island Flores itu beragam budaya Flores itu kaya keindahan alam Flores itu surga wisata. 

 Seorang anggota polisi asal Jakarta yang sedang bertugas di Flores mengatakan "kak Ani, Flores n NTT tuh Mantap wisatanya" "Ember (emang benar). Baru tau lu. Makanya lu jangan ngeram aja di Jakarta hehehhee"Jawabku dalam dialeg Betawi. 

 Sepeda motor itu kembali membawaku menuju Batu Cermin satu kawasan wisata yang berlokasi di kota Labuan Bajo. Seorang supervisor rekonstruksi Batu Cermin dengan sigap menghadangku. Rupanya aku nggak diijinkan memasuki kawasan wisata itu. "Aku ingin menulis Batu Cermin, mas" Protesku pada supervisor itu. "Oh kalau niat ibu menulis, aku sangat dukung, bu. Promosi wisata Batu Cermin. Sayangnya saat ini belum boleh, bu. Kami sedang mengerjakan proyek, menata kembali landscape-nya" Papar sang supervisor asal Jakarta itu. "Aduh mas, peace deh. Sekali ini saja koq" Pintaku. "Nggak bisa, bu. Ibu harus ada ijin tertulis dari PUPR" "Oh gitu. Okeylah kalau gitu" 

 Aku ditemani tukang ojek pun tancap gas menuju kantor PUPR setempat. Lagi-lagi aku memendam kekecewaan. "Maaf ya bu. Belum boleh. Ntar kalau udah selesai pengerjaan penataan kawasan itu ibu boleh datang lagi" Aku kembali meminta tukang ojek mengantarku pada kantor Taman Nasional Komodo. Di sini aku harus bersabar ria lantaran petugas masih break time for lunch alias jam makan siang. Agak lama aku menunggu. Dan taraaaaaaa. tepat pada angka 2 pm aku diperbolehkan memasuki ruangan. 

Akupun tak mau kehilangan kesempatan cekrak cekrik mengarahkan kameraku pada fosil Komodo. Tentunya atas ijin petugas. Telur sang Buaya Daratpun tak luput dari perhatianku. Lagi-lagi aku soroti kameraku secepat kilat petir dan Yesss aku berhasil mengabadikannya. Aku berhasil mendapatkan literatur yang mengulas kehidupan Komodo yang ditulis dalam bahasa Inggris. 

 Akupun pamit dari TNK Office n meluncur ke kantor Dinas Pariwisata. Sayangnya brosur aku tak dapatkan di sini. Rupanya kehabisan brosur. Ya udah deh, aku ngopi aja dulu bersama tukang ojek. Siangnya sempat mencicipi keindahan kota wisata super premium itu sembari mencicipi semangkuk mie rebus di pinggir pantai. 

 Aku mencoba menelepon salah satu personil yang berada di posisi top management kantor BOP Labuan Bajo. Mana tau bisa gali informasi pariwisata lebih lengkap. Di sore hari, Lagi-lagi aku nggak mau kehilangan kesempatan menikmati sunset di Puncak Waringin. Di sini puas deh. Kapan ya, langit Jakarta menyatu dengan dagrasi birunya laut seperti di Flores?. Just a dream. So, masih ragu kalau NTT ada apanya? NTT tuh Apa Adanya. Yuk ke NTT aja wisatanya. 

Flores Bukan Negeri Kaleng-kaleng

Flores Bukan Negeri Kaleng-kaleng 

 Catatan Wisata Ani Paga 

 Flores demikian nama pulau yang bentuknya mirip ular. Beberapa kali saya dihadapkan pertanyaan teman-teman di Jakarta tentang keberadaan pulau yang namanya disematkan orang Portugis Mr S.M Cabot itu. "Flores itu berada di luar negeri ya bu Ani. Bahasa apa yang digunakan sehari-hari di Flores" demikian beberapa pertanyaan yang sempat mampir pada kuping penulis. 

 Menghadapi pertanyaan seperti ini terkadang tandukku ingin berdiri juga. Emangnya gue setan gentayangan hehehehe. Ya, Nggak lah. Setidaknya masih terekam kuat pelajaran geografi di bangku SD jaman dahulu atau kalau jaman now bisa searching ria di google map-lah. "Bahasa Inggris, sesekali kami menggunakan bahasa Indonesia dan Flores ya benar berada di sebelah utara Australia. Kalau mau berenang dari Australia dekat koq. Tinggal mengambang di Samudera Hindia masuk laut Sawu, ketemu deh Floresnya" Jawabku ketus mengibulin sang penanya. 

 Ya, sekali lagi, silahkan buka google map pasti bakal nemu pulau yang memiliki panjang 354 km dan lebar 66 km itu. Secara administratif, pulau Flores itu sendiri masuk dalam provinsi Nusa Tenggara Timur. Jangan bilang lagi Flores itu dekat Biak Papua ya atau Flores itu dekat Medan ya bu Ani (jauh amat mbak), Flores itu di Australia ya bu Ani. Flores itu diapiti perairan laut Flores yang terbentang antara Sulawesi dan Flores, selatannya gemuruh ombak laut Sawu ikut menambah pesona pulau yang bertetangga dengan pulau Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Nah, cukup jelas kan? .

 Mau tau apa aja obyek wisata yang menarik di Flores? Pokoknya dijamin puas deh, nggak bakal nyesal kalau berwisata ke Flores. Labuan Bajo menjadi gate way to Flores. Di ujung barat pulau ini, Komodo sang reptil raksasa akan menyajikan atraksi menarik seputar alamnya yang membuat anda akan kembali menicicipi surga wisatanya. Belum lagi keindahan pulau-pulau kecil lainnya yang membuat anda berdecak kagum, ditambah lagi keindahan deretan bukit bak lukisan alam yang membentang indah. Aku aja tak bosan-bosan mencicipi keindahan Labuan Bajo dan Flores umumnya. Anda juga bisa menyaksikan atraksi beragam budaya yang menarik, mengagumkan. 

 Keindahan alam dan budayanya lagi-lagi tergambar pada sawah yang berbentuk jaring laba-laba yang merupakan sistem pembagian lahan pertanian di Manggarai Flores. Anda nggak bakal nemu di lokasi lain. Hanya di Manggarai Flores. Noted ya. Wae Rebo, Kampung Bena adalah kampung tradisional yang masih mempertahankan etnik tradisionalnya. Siap2 aja tarik urat berwisata ke lokasi ini. Tapi puas koq. 

 Semakin ke timur Anda bisa nikmati piramida alam bak lukisan alam pada gunung Inerie di Kabupaten Ngada, Keindahan 17 pulau di kabupaten Nagekeo serta beberapa spesies Komodo yang berwarna gold dan bertubuh sedikit langsing ketimbang kadal raksasa di Komodo National Park - Manggarai Barat. Di Ende akan disuguhi museum sejarah tempat diasingkannya proklamator kemerdekaan Republik Indonesia mr Bung Karno. Sekitar 60 km dari kota Ende akan disajikan keajaiban dunia Kelimutu; 3 danau volcano yang warnanya bisa berubah sesuka hatinya. Nggak percaya? Ke sana aja sendiri atau mau gue antar n jadi guide. Ayoooo. 

 Makin ke timur Anda akan menikmati keindahan budaya di kabupaten Sikka berupa tenun ikat dan atraksi budaya lainnya serta keindahan pantainya yang wow. Keindahan pantai terus berlanjut hingga ujung timur Flores yakni di kota Larantuka. Di sini obyek wisata banyak juga ditampilkan. Oh ya, di sini Anda bisa menyaksikan langsung wisata pilgrim berupa seremonial Semana Santa dan Jumat Agung yang dirayakan setiap perayaan Paskah. Sebagai souvenir jangan lupa beli kain tenun di Flores. Motifnya beragam sesuai budayanya. Sesekali koleksi kain tenun kenapa. Hehehhee 

 Nah, info wisatanya lengkap kan? Flores bukan Kaleng-kaleng

Mengejar Ombak Di Pantai Selatan Flores

Mengejar Ombak Di Pantai Selatan Flores

 Catatan wisata Ani Paga

 Langit masih membiru menawarkan senyum pagi tatkala kami berkonvoi menerobos hutan belantara yang terbentang seputar danau Rana Mese di Manggarai Timur Flores. Suhu udara dingin menusuk kulit hingga menembus sum-sum tulang belakang. Sang mentari dari timur kian mengangkasa, memancarkan sinarnya pada kehidupan penduduk. Sang petani mulai melangkah, membersihkan kebun mereka. Kiri kanan jalanpun menyajikan pesona alam ๐ŸŒฟ๐Ÿƒ yang menyejukkan mata.

 Kendaraan yang kami tumpangipun terus melaju menuju Borong sebagai ibukota Kabupaten Manggarai Timur. Suhu udara di luar sana berganti kian terasa menyengat tatkala kami melintasi ruas jalan di sisi selatan Toka kemudian memasuki kota Borong. Pada salah satu rumah makan dekat jembatan ๐ŸŒ‰kendaraan kami berhenti membeli bekal makanan. 

Sementara dua mobil milik teman kami yang lainnya telah meluncur lebih awal menuju pantai Liang Bala sebagai lokasi obyek wisata yang akan kami tuju. Tak lama berselang kami segera tancap gas menuju pantai yang jaraknya satu kilo meter lebih arah timur dari kota Borong itu. Akupun segera mengaktifkan Global Positioning System (GPS) yang memudahkan navigasi mencari destinasi wisata yang menjadi tujuan kami. 

 Birunya laut Sawu yang kembali menyatu dengan gradasi langit biru ๐Ÿ”ตmembuat mataku enggan terpejam ingin segera menikmati keindahan pantai itu. Hingga pada lokasi yang dituju kendaraan kami berhenti. Beberapa kendaraan berjejer parkir di pinggir jalan. Kamipun menuruni jalan setapak di antara perkebunan menuju bibir pantai. Suara gemuruh ombak yang begitu kencang seakan menyambut kami. Langkah kami terus melaju hingga pantai Liang Bala. 

Terlihat wisatawan lokal sangat ramai menikmati keindahan pantai itu. Akupun segera mengeluarkan kamera Handphoneku membidik gulungan ombak putih yang menerjang bebatuan dan pasir pantai. Aku sengaja mengenakan ๐Ÿ‘’dress pantai bermotif bunga merah. Cekrak cekrik kameraku menangkap atraksi ombak putih yang menyambut kehadiranku. Akupun beralih pada bebatuan cantik yang menghiasi pantai di sisi barat. Bebatuan itu tampak menarik memenuhi pantai. Tentu saja aku tak mau kehilangan moment langkah ini. Terlihat beberapa deretan batu itu patah dan sedikit amblas. Rupanya patahan itu ๐Ÿ‘‰ merupakan hasil gesekan tanah yang bergerak yang disebut likuifaksi. Hmmm seram juga. Tapi ah sudahlah. 

 Gemuruh ombak putih yang lagi-lagi menghantam bebatuan itu kembali menarik perhatianku dan melupakan amblasan bebatuan itu. Aku terus mengejar ombak itu. Akupun dipanggil seorang anak muda yang merupakan putra sahabat SMPku tempo doeloe menuju lokasi makan siang kami di bawah teduhan pepohonan. Teman-temanku rupanya telah menyediakan makanan berupa nasi putih dilengkapi ikan serta ayam panggang ๐Ÿ”ฅ๐Ÿ“yang maknyos menggoyangkan lidah. Ahaaa lezatnya aduh mama Mia.

 Teman-temanku yang berdomisili di pulau Jawa kami hadirkan dalam video ๐Ÿ“น๐ŸŽฅ๐Ÿ“ผcall ikut menikmati sajian kami berupa ayam dan ikan bakar segar serta kemolekan tubuh ombak putih yang tak jemu menampilkan atraksinya di pantai selatan pulau Flores itu. Waktu makan siangpun berlalu, kamipun bergegas mengganti busana, mengenakan celana pendek dan t shirt kemudian menyambangi pada bagian timur pantai. Pasir berwarna krem menanti kehadiran kami. Sesekali aku terbaring di atas tebaran pasir itu sembari menikmati alam ๐ŸŒฟ๐Ÿƒ dan gulungan ombak putih yang terus menyapa kami. 

Sunglasses tentu saja menjadi asesoris yang wajib aku kenakan melawan sinar matahari☀๐ŸŒ•๐ŸŒ yang menyilaukan pandanganku. Ombak putih yang terus menerjang membuat nyaliku agak ciut untuk menceburkan diri dalam gulungan ombak. Maklum aku terlahir sebagai anak gunung yang jarang bercengkerama dengan ombak. Aku mencoba berendam pada kolam alam yang airnya merupakan terjangan air laut. Lino anak ganteng putra sahabatku Meli Deor kuajak menemaniku berendam. Rupanya dia sangat lincah berenang di kolam itu. Senjapun meminta kami bergegas ๐Ÿƒ๐Ÿƒkembali berganti busana dan meninggalkan ๐Ÿ๐Ÿ€pantai yang indah itu. Kendati enggan melangkah kamipun berpamitan pada pantai itu dan memasuki mobil ๐Ÿš˜๐Ÿš—๐Ÿ“ฑyang membawa kami kembali ke kota. Alam Flores memang ๐Ÿ˜๐Ÿ’“indah dan selalu menggoda pencinta wisata alam ๐ŸŒฟ๐Ÿƒmencicipi sajian alamnya yang aduhai.

Perjalanan Panjang Itupun Berakhir Di Ibukota

Perjalanan Panjang Itupun Berakhir di Ibu Kota 

 Catatan perjalanan Rengkampong Ani Paga 


 Jarum jam menunjukkan angka 8 am waktu Flores saat aku bersama pasukan keponakan mengantar aku menuju Komodo Airport di ujung barat pulau Flores. Aku kemudian didrop pada bandara termegah di Flores itu. Kondisi pandemi covid 19 yang telah berlalu membuat arus wisatawan kembali mengalir pada kota Labuan Bajo sebagai kota wisata premium di era milenial. Wisatawan mancanegarapun terlihat kembali mencicipi kemolekan pariwisata di pulau yang menyimpan sejuta keindahan alam dan budaya itu. Apalagi kalau bukan komodo sebagai trade mark industri pariwisatanya didukung keindahan alam serta budaya Flores yang membius para wisatawan dari belahan dunia.

 Kehidupan pariwisata kembali menggeliat di pulau Flores yang berbatasan langsung dengan provinsi Nusa Tenggara Barat itu. Aku sendiri sempat menyambangi beberapa obyek wisata di pulau tercantik itu. Keindahan alamnya wow bikin betah dan nggak ingin balik ke markas di ibukota. 

 Saat itu  mengambil Labuan Bajo sebagai starting point ✈penerbanganku. Usai didrop keponakan aku memburu counter check in salah satu maskapai yang akan kutumpangi menuju ibukota Jakarta. Proses check in-pun berjalan lancar dan aku kembali menemui keponakanku yang menunggu di luar sana. Kekwatiran akan pelayanan buruk maskapai ini sempat terlintas dalam benakku. 

Tahun 2015 lalu menjadi moment terakhir aku menggunakan maskapai itu dan kini nggak ada salahnya jika aku mencoba kembali. Kali ini servicenya mematahkan dugaanku. Dia hadir on time menjemput para penumpang. Dalam boarding pass tertera kota pahlawan Surabaya menjadi transit penerbangan kami. Lunch box yang aku beli pada salah satu kantin di bandara Labuan Bajo berisi nasi ikan goreng plus lalapan kulahap habis. Beruntung aku sengaja membeli makanan itu. 

Kebiasaan maskapai itu tidak menyediakan makanan berat telah terekam jelas dalam benakku. Seorang pramugari cantik sempat melirik aksi makanku. Akupun melempar senyum manis padanya menyambut sapaan senyumnya. Entah mengapa, di tengah penerbangan terdengar pengumuman pulau Dewata Bali menjadi lokasi transit. Tak apalah toh aku bisa jalan-jalan manis di pulau bermayoritas agama Hindu dan terkenal dengan keindahan alam dan budayanya itu. Kamipun berhasil landing di bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. 

 Di bandara itu para penumpang sempat tertahan di dalam cabin. Kipas-kipaspun terlihat sempat menjadi atraksi dalam cabin. Suhu udaranya cuy bikin resah gelisah dan pada akhirnya pihak ground staff dari passenger handling di darat mengijinkan penumpang meninggalkan body pesawat itu kemudian dijemput shuttle bus menuju gedung terminal dan check in pada penerbangan berikutnya.

 Penerbangan menuju kota pahlawan sempat tertunda.beberapa penumpangpun melempar beberapa pertanyaan pada petugasnya. Lalulintas yang padat di bandara Juanda menjadi alasan pendingnya penerbangan kami. Anehnya, di tengah penantian kami kembali mengajukan pertanyaan seputar penundaan. Beberapa wisatawan asing asal Eropah dan Indiapun ikut gelisah. Lagi-lagi jawaban "runway rusak di bandara Juanda" menjadi alasan penerbangan kami tertunda. Okay-lah kalau begitu. Setelah menunggu ria kamipun berhasil diterbangkan menuju bandara di Sidoarjo Jawa Timur itu. 

 Lagi-lagi kami dijemput shuttle bus menuju gedung terminal bandara dan menembus pemeriksaan ketat X-Ray di gedung terminal bandara internasional itu. Dalam boarding pass tertera take off pada pukul 17.10 waktu setempat. Akupun menyempatkan diri memesan dinner menu seporsi nasi capcay pada Restaurant Bakmi yang tak jauh dari waiting room. Hingga waktu take off yang tertera dalam boarding pass pemberitahuan boarding timepun belum terdengar. 

Terlihat guratan resah gelisah terlukis di wajah beberapa penumpang. Bisik-bisik tetanggapun mulai terdengar. "Jangan-jangan lelet lagi jadwal penerbangan" demikian seorang penumpang berceloteh sembari melirik pada bagian informasi si maskapai. Petugas tak tampakkan diri pada counter itu. Beberapa penumpang menuju Balipun mengalami hal yang sama. Keberangkatannya menuju Bali tertunda. Iya deh sing sabar aja menunggu. Nasi capcayku yang terbungkus rapih tak kusentuh. Aku kwatir jika sementara makan berlangsung secara mendadak disuruh boarding. Aku mengisi baterai androidku hingga full. Benar saja penerbangan kami tertunda dua jam dari jadwal yang tertera dalam boarding pass. 

Saat take off aku menikmati penerbangan kendati rasa kesal berkecamuk di dalam dada. Yang penting sampai tujuan cuy. Nasi capcay kuembat dan disikat habis kemudian meluncur bebas menembus isi perutku. Aku kemudian berlarut dalam tidur dan mimpi indah bakal sampai dengan selamat di Jakarta. Angka 8 pm lebih kami berhasil landing di bandara Aerotropolis Soekarno Hatta Cengkareng itu. Menunggu barang bagasi tak begitu lama. Aku melangkah mencari taksi papan atas yang membawaku ke markasku. Terima kasih sang maskapai yang mengajarkan kami kesabaran panjang dalam touring sehari kendati sejatinya jika direct flight hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam penerbangan. 

 Oh la la Menguji kesabaran melewati ngomel-ngomel manja penumpang itupun menjadi indah pada saatnya. Happy monday

Menatap Senja Di Tanjung Bunga Labuan Bajo

Menatap Senja Di Tanjung Bunga Labuan Bajo; 

 Catatan pojok wisata Ani Paga 

 Jarum jam mulai bertengger di angka 4 pm tatkala keponakanku Nona Paga (petrasia krisolina) menjemputku pada rumah keponakanku yang satu lagi di kawasan Wae Kesambi Labuan Bajo. Adalah kak Waty Rachman seorang sosok yang rendah hati ❤๐Ÿ’ž sejak tahun 2021 mengundangku menyambangi Tanjung Bunga ๐ŸŒบ๐ŸŒป๐ŸŒน๐ŸŒทsebagai markasnya bersama suami tercinta kak Gabriel Mahal.

 Di bulan Mei 2022 sehari sebelum aku kembali mengangkasa menuju Jakarta akupun menghubungi kak Waty memberitahukan jika aku tengah berada di kota premium itu. Spontan, kamipun sepakat akan ๐Ÿšถ๐Ÿ‘ญbertemu di vila milik mereka di Tanjung Bunga yang berlokasi tak jauh dari Batu Gosok. Dari beberapa postingan kak Gabriel dan kak Waty aku terpesona pada keindahan Tanjung Bunga tentu saja membuat aku penasaran. 

 Kak Watypun secepat kilat share location padaku melalui aplikasi whatsapp chat. Akupun tak mau lama-lama mengaktifkan Global Positioning System pada androidku kemudian bersama keponakanku Nona Paga tancap gas menuju Tanjung Bunga. Tercatat 23 menit waktu yang harus kami lalui dengan jarak tempuh sejauh 9,5 km. 

 Menyusuri jalan berkelok di antara tebaran bukit cantik yang menghijau, memanjakan mata memaksa aku turun dari kendaraan roda dua untuk sejenak mencicipi keindahan tubuh bukit itu. Ah betapa aku sebagai orang Flores sangat mensyukuri anugerah terindah dari Tuhan pada pulau asalku itu. Adalah pohon lontar ๐ŸŒด๐ŸŒดyang tumbuh menjulang tinggi melambaikan tangannya padaku dari atas bukit berlatarbelakang laut biru ๐ŸŒŠ memaksa aku membidiknya. 

 Lagi-lagi cekrak cekrikku kembali beraksi menangkap keindahan alam Labuan Bajo. Kamipun kembali menarik pegas menuju lokasi ๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“yang dituju.Kendaraan kamipun merapat pada satu spot cantik yang belakangan bernama G Spot Tanjung Bunga itu. Entah Huruf G bermakna apa. Bisa jadi merupakan inisial nama kak Gabriel. Wow, pesonaTanjung Bunga is so amazing. Terlihat kak Gabriel sedang duduk santai mengawasi pembangunan cafe miliknya. Kamipun bersalaman. 

Kabarnya di lokasi ini banyak wisatawan berdiri menikmati sajian keindahan alam laut biru, Sunset kemudian bentangan langit ⛅⛅๐ŸŒ jingga yang memancar di sore hari. Tak lama berselang, kami menuruni jalan setapak menuju vila. Pohon ๐ŸŒณbidara yang cantik ditemani nyanyian burung Tanjung Bunga yang bertengger di pohon itu menyambut kehadiranku bersama keponakanku. Di sana terdapat beberapa jenis burung yang bersahabat. Sang nyonya kak Watypun menampakkan batang hidungnya dengan senyum manis ramah menyalami kami kemudian membawa kami pada vila. 

Wow, dari pelataran vila ini kami disuguhi keindahan pantai dan laut ๐ŸŒŠbiru yang sangat indah. Aku melempar pandanganku pada tatanan batu alam yang menempel pada dinding. Sangat artistik. Jendela yang terbuka terkesan menjadi frame menangkap sajian lukisan keindahan alam dan Sunset di luar sana. Kamipun diajaknya menjelajah kawasan Tanjung Bunga itu. Pondok kecil yang tak jauh dari vila menjadi spot cantik berikutnya yang kami datangi. 

Beberapa properti seperti tikar pandan khas Manggarai digelar, roka cepa (tas anyaman bambu) bernuansa etnik Manggarai terlihat melengkapi pondok itu. Tak ketinggalan ijukpun menghiasi tiang pada pondok itu. Back to nature demikian konsep yang mereka gunakan sesuai selera wisatawan jaman now terutama wisatawan mancanegara dan wisatawan domestik dari kota besar seperti Jakarta yang haus keindahan alam ๐ŸŒฟ๐Ÿƒ. 

 Akupun beberapa kali mendapat serangan pertanyaan " koq bu Ani kalau ke Flores sering foto alam? ๐Ÿ“ท๐Ÿ“ท". Akupun menjelaskan ' kami di kota besar haus dan lapar keindahan alam seperti pulau Flores. Di Jakarta tak ada pemandangan alam seindah pulau Flores. Air laut Jakarta itu berwarna hitam pekat akibat timbunan sampah yang mengalir termasuk limbah pabrik yang tak terkendali mengotori air sungai yang mengalir menuju laut. Langit Jakarta itu sudah tak lagi membiru. Polusi udaranya kian parah dengan tingkat pencemaran yang tinggi" 

 Merekapun manggut-manggut mendengar ulasanku. Jakarta sebagai kota terpadat menyumbang kualitas udara terburuk dengan konsentrasi rata-rata PM 2,5 tahunan di tahun 2021 adalah 39,2 mikrogram/M3.Disinyalir melebihi pedoman Badan Kesehatan Dunia PBB yakni WHO. Maka tak heran, jika polutan ini berimbas pada munculnya efek negatif bagi gangguan kesehatan penduduk Jakarta seperti penyakit jantung, stroke, asma, gangguan paru-paru bahkan hingga berujung pada jutaan kematian setiap tahunnya. 

 Kembali pada Tanjung Bunga.

 Dari pondok kecil kamipun diajak kak Waty home touring pada seputar dapur tempat masak, pantri yang menyatu dengan ruang makan terbuka. Kamar tidur mereka tersembunyi di bagian belakang dapur dengan kasur beralaskan lantai. Hembusan angin laut menembus hingga ke kamar tidur private itu.

 Wah benar-benar konsep desain rumah yang bersahabat dengan alam dan ramah lingkungan. Kamipun disuguhi minuman hangat kopi Manggarai yang lezatooo nikmatnya, black Forest dan pisang rebus. Dari sini sejenak kami ngobrol di bawah teduhan pohon bidara. Di atas atap pohon tergantung beberapa Potang (rumah ayam ๐Ÿ”๐Ÿ“; bahasa Manggarai-red). 

Senjapun menjemput dan ๐Ÿ“๐Ÿ”๐Ÿคayam-ayam itu berterbangan kemudian bertengger di atas pohon bersama potang seakan ikut menyimak obrolan kami. Kak Gabriel masih asyik menyiram tanaman bunga dan sayuran yang ditanamnya. Telaten banget ya kak. Gambaran seorang advokat yang rendah hati dan peduli lingkungan hidup. 

 Senja kian merapat dan langit jinggapun menyapa kami. Segerombolan tamu berikutnya datang bertandang ke Tanjung Bunga. Kak Waty menyempatkan diri menyuguhi mereka minuman kemudian kak Waty bersama kami pamit pada kak Gabriel. Kamipun bergegas menuju mobil mereka yang terparkir di atas sana dan tancap gas menyusul keponakanku Nona Paga kembali ke tengah kota Labuan Bajo. 

Kak Waty kembali menawariku agar menginap di Tanjung Bunga pada kedatanganku berikutnya. Boleh deh kak merasakan angin laut segar ๐Ÿƒ๐Ÿ’ฆTanjung Bunga di malam hari kemudian bercengkerama dengan birunya laut ๐ŸŒŠ. Atas permintaanku, Kak Watypun menurunkan saya di kampung Ujung. Nona yang dengan sabar menungguku mengajakku menikmati Water Front Labuan Bajo yang terbentang di tepi pantai kota di ujung barat Flores itu. Sementara keponakan yang satu lagi Efrida Yanti bersama suami dan anak-anaknya tak sabar lagi menunggu kehadiranku dalam acara makan malam bersama mereka di rumah kediaman mereka pada kawasan Wae Mata Labuan Bajo. 

 Terima kasih pada kak Gabriel, kak Waty, Nona Paga, enu Efrida, enu Bety Paga, nana Beny, enu Nitha Bethan, nana Jhoze Paga, nana Altu juga adik Chris

Todo; Jejak Kampung Tradisional Jejak Budaya Manggarai Masa Lalu

Todo; Kampung Tradisional Jejak Budaya Manggarai Masa Lalu.

 Catatan pojok budaya Ani Paga 

 Todo merupakan satu kampung yang berlokasi di Satar Mese Barat Kabupaten Manggarai pulau Flores provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari Ruteng sebagai pusat ibukota kabupaten, kampung Todo bisa ditempuh jarak sejauh 46,4 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam, 25 menit. Selama perjalanan menuju kampung ini banyak pemandangan alam indah yang membuat mata enggan terpejam. Pokoknya asyik banget. 

Saya sendiri pernah menyambangi Todo di tahun 2004 saat terlibat dalam kegiatan politik seorang anggota DPR RI dan berhasil mengantarnya duduk di kursi emas gedung yang mulia Senayan Jakarta. Memasuki kampung ini aku terpesona dengan bebatuan dengan permukaan ceper yang tertata indah. Sayapun melempar pertanyaan pada seorang pak tua yang merupakan tokoh adat di rumah adat Todo seputar bentuk batu yang ceper pada halaman kampung itu. Jawabannya membuat aku kagum.Betapa tidak, kebetulan leluhurku dari pihak ibu yang bernama popo Kanta berasal dari kampung ini. Si pak tua menjelaskan kalau batu rata yang menghiasi wajah kampung itu berfungsi sebagai keset untuk membersihkan kaki para tamu atau para pegawai kerajaan sebelum memasuki rumah adat itu. 

 Wow betapa luhurnya budaya nenek moyangku. Meriam tua terlihat menjadi properti halaman kampung ini. Tidak salah, Todo merupakan pusat kerajaan di masa silam sebelum pindah ke Ruteng. Akupun mengeluarkan beberapa lilin dari dalam tas ranselku kemudian kunyalakan lilin itu pada kuburan tua yang merupakan makam leluhurku. 

 Rombongan kamipun memasuki rumah adat dan kamipun menyerahkan beberapa botol beer pada tokoh adat. Merekapun menyambut kami dengan hangat. Tak lupa tatanan gelas yang berisi minuman kopi Manggarai mendarat di depan kami. Kamipun menikmatinya dengan senang hati. Rasanya boooo beda banget pokoknya sensasi kopi Manggarai Flores enak di lidah menembus isi perut dalam kelelahan. Gluk gluk gluk nikmatnya lezatooo. 

 Seekor ayam ๐Ÿ”๐Ÿ“๐Ÿค dipersiapkan untuk menyambut kami dan kemudian dibuat acara pemotongan ayam yang akan dipersembahkan pada leluhur dalam acara teing hang (sesajen; persembahan pada leluhur). "Boto manga babang agu bentang" demikian satu kalimat yang keluar dari mulut sang tokoh adat yang maknanya agar leluhur kami tidak kaget serta menerima maksud baik kedatangan kami. Pandanganku kuarahkan pada seluruh sudut ruangan. Satu rumah ini dihuni beberapa keluarga dan tentunya memiliki kamar tidur yang mengelilingi ruang utama. Sangat eksotik interiornya. 

 Di sini masih tersimpan sejarah masa lalu berupa Gendang Loke Nggerang yang terbuat dari kulit perut seorang gadis asal Ndoso Manggarai Barat yang menjadi korban perebutan cinta antara kerajaan Bima di pulau Sumbawa, Goa di Sulawesi serta raja Todo di Manggarai Flores. Kata Loke dalam bahasa Manggarai Flores memiliki arti sebagai Kulit dan Nggerang diterjemahkan sebagai memancarkan cahaya. Konon kabarnya sang putri bidadari cantik yang merupakan putri dari bu Hendang dan pak Awang ini pada punggung serta perutnya memancarkan cahaya hingga ke langit. 

Hingga kini gendang itu masih tersimpan dengan baik. Untuk memperlihatkannya pada pengunjung sebelumnya dilakukan acara adat. Hingga kini beberapa rumah adat berarsitektur budaya asli Manggarai masih berdiri kokoh di kampung ini. 

Selain Todo, kampung Wae Rebo yang kini masuk dalam deretan catatan UNESCO sebagai warisan dunia ๐ŸŒdalam kebudayaan merupakan satu kampung tradisonal yang ramai dikunjungi wisatawan. Coba, pulau Flores kurang apa dalam keindahan. Ngapain jauh-jauh jalan-jalan ke luar negeri. Ke Flores aja. Flores itu sangat eksotik, percaya deh pada omongan gue. Kamu nggak bakal nyesal keluarin duit. Recomended banget buat kamu-kamu yang suka traveling rame-rame atau backpacker. Elu sih nggak percaya omongan gue. Sini join aku ke Flores. yukkk Happy sunday. Thanks to nana Gusti Rumat sumbangan fo

Jangan Menghukum Alam Karena Alam Kan Menghukummu

Jangan Pernah Menghukum Alam Karena Alampun Akan Menghukummu. Part 2.

 Tangisan rindu pencinta alam Writer : Ani Paga 

 Mobil Avanza itu melaju kencang dengan kecepatan 60 km per jam. Udara segar pada pinggir area hutan itu membuatku semakin bergairah menelusuri lebih jauh, mencicipi keindahan alam di hutan itu. Aku yang selama puluhan tahun tinggal di Jakarta tentu saja sangat menikmati udara hutan yang sejuk kendati tak sesejuk masa kecil kami dan tak kutemukan di ibukota negara.

 Kalau di Jakarta terdapat beberapa pohon tinggi pada satu kawasan konservasi toh tak seberapa banyak dan tak mampu menyerap air hujan dengan volume lebih banyak ke dalam tanah yang bisa diharapkan menjadi sumber air. Jakarta telah berubah wajah menjadi kota metropolitan yang super padat, dipenuhi kerimbunan gedung pencakar langit dengan kualitas udara yang super buruk dan lagi-lagi polusi udaranya bertengger di angka ketiga sebagai kota terpolusi di dunia setelah Dumai dan Beijing. 

 Kuarahkan driver untuk terus memasuki kawasan hutan itu. Terlihat beberapa pohon kopi warga sekitar hutan memenuhi areal hutan itu. Kawasan yang dahulu dipenuhi pohon besar sebagai kawasan resapan air tanah kini telah berganti menjadi kebun kopi yang dikelolah beberapa warga yang berdomisili tak jauh dari hutan ini. Aku mengajak driver itu menelusuri sumber mata air yang biasa kami jadikan rest area tatkala melakukan perjalanan dari desa menuju kota bahkan sebaliknya. Rest area hutan di Flores yang dulu sejuk ditemani gemercik air sungai yang mengalir, menenangkan jiwa, mengalir indah kini kharismanya tak seindah dulu. Lagu gemerciknya tak lagi bergaung mengalun indah seperti dulu saat usiaku masih remaja SMP. 

 Beberapa pohon besar dan tinggi tak lagi menghiasi wajah hutan ini. Aku menggelengkan kepalaku berulang. Betapa tidak, hutan yang dulu sejuk dengan udara yang dingin tak lagi terasa. Kalau toh masih terlihat pohon tinggi radiusnya cukup jauh dari jalan raya. Nyanyian dengan nada-nada indah burung Ngkiong yang dilengkapi perfom indah para monyet bergelantung kemudian membuat atraksi melompat antar pohon tak lagi bisa kami nikmati. 

 Andai saja konser para monyet dan burung Ngkiong sebagai spesies tetap hutan ๐ŸŒฒ⛳itu masih tersaji, kami kan betah berada di hutan itu menjadi penonton setia atraksi seni mereka. Tapi sayang saat itu kami hanya bisa menyaksikan atraksi bisu pohon-pohon yang tak lagi tinggi, kesunyian hutan yang tak lagi berirama, menonton atraksi air mengalir yang tak lagi menampilkan gemercik dalam nada indah, tak lagi menjadi pelepas dahaga yang sejuk. 

 Jangan heran kalau debit air berkurang dan tak mampu lagi mengairi sawah-sawah parah petani, tak lagi bisa menyiram kesejukan pada petani tanaman hortikultura, tak lagi mencukupi kebutuhan air minum para penduduk, tak lagi memenuhi kolam ikan para pembudidaya ikan air tawar. Banjir dan longsor di musim hujanpun mengalir seenak judelnya meluluhlantahkan pertahanan penduduk, merusak lingkungan hidup, merusak tanaman pertanian, merusak, menjungkirbalikkan rumah penduduk kemudian mengalirkan material rumah bersama bebatuan pada semua tujuan tanpa kenal batas ambang dan lagi-lagi manusia yang menjadi pelaku perusak hutan menjadi korban keganasan angkara murka sang penguasa hutan. 

Hutan dan manusia memiliki hubungan simbiotik yang harusnya tetap terjaga. Hutan ibarat rumah lestari yang dikuasai pemiliknya. Dia pun tak ingin kalau istananya dirusaki tangan-tangan jahil menebang sesuka hati tanpa berupaya menanam kembali. Penguasa hutan tentu saja akan menebarkan angkara murka jika Putrinya Molas Poco ( pohon tinggi dan berdiameter besar) ditebang, digotong tanpa seiijinnya. Demikian pesan indah sang pemilik hutan yang menembus sukma kami. 

 Harapan kamipun pupus dan memutuskan kembali pulang mengayunkan langkah, membawa pulang asa yang tak berujung kembali pada mobil ๐Ÿš˜๐Ÿš—yang terparkir di pinggir jalan kemudian menarik pegas, meluncur dalam kecepatan tinggi menuju kota tempat tinggal kami.

 Janganlah menghukum alam, jika dirimu tak mau dihukum ๐ŸŒฟ๐Ÿƒalam. Ayooo kita kembali menanam pohon ๐ŸŒณ๐ŸŒฒ๐ŸŒด agar bumi ๐ŸŒŽ๐ŸŒdan hutan kita kembali lestari, mengurangi menipisnya lapisan ozon yang kini kian parah memanasi bumi dengan suhu udara ☁yang super ☝๐Ÿ“ˆtinggi dan menghancurkan kehidupan penghuni bumi. # If you cut a tree, you kill a life # Plant a tree, so the next generation can get a free fresh air # Don't make trees rare, keep them with care # Trees On, global warning Gone # Take care the trees, they will take care to you 

Cear Cumpe; Narasi Syukuran Kelahiran Anak Dalam Budaya Manggarai

Catatan pojok budaya Ani Paga Jarum jam menunjukkan angka 9 am. Pemimpin upacara adat menyambut hadirin dengan menyodorkan sebo...