MELACAK JEJAK SANG MAMA KANDUNG
By : Ani Paga
Sore itu aku yang tengah.menunggu pastor untuk menerima sakramen pengakuan dosa di bangku panjang yang berjejer di halaman gereja tanpa sengaja mendapatkan seorang perempuan berambut lurus yang digunting pendek.
Beberapa ibu yang lainpun tampak duduk santai menunggu jadwal bertemu pastor.
Sebut saja Dewi nama ibu itu. Penampilannya sederhana, rada cuek bahkan dandanpun jauh dari sempurna. Polesan lipstikpun tak tampak menghiasi wajahnya yang cantik.
Dewi lahir di sebuah kota kecil tepatnya di ujung selatan pulau Sumatera. Kedua orang tuanya berpisah saat Dewi masih berada di dalam rahim ibunya. Entah faktor apa yang membuat orang tuanya berpisah hingga sekarang dia tak menemukan jawabannya. Bahkan sosok pria yang menjadi ayah biologisnya hingga kini tak pernah muncul dalam bayangannya. Sementara ibu kandungnya meninggal dunia pasca melahirkan Dewi. Dewi benar2 hidup sebatang kara.
Nasib Dewi masih beruntung. Sejak kecil namanya yang merupakan dewi keberuntungan Dewi diasuh seorang biarawati yang masih memiliki hubungan darah dengan ibunya.
Dewi mengikuti tempat tugas ibu pengasuhnya. Bersama sang biarawati, dia tinggal tak jauh dari rumah sakit tempat sang suster (nama panggilan biarawati) mengabdi.
Dewipun diberi pendidikkan yang layak. Dia menempuh pendidikkan di tingkat dasar hingga tingkat sarjana bahkan magister. Prestasi akademiknya terbilang sangat memuaskan.
Sejak usia SD Dewi selalu menanyakan keberadaan ibu kandungnya. Dia sangat merindukan akan pertemuan dengan sosok ibu yang melahirkannya. Suster yang selalu dihadapkan pertanyaan Dewi akan keberadaan ibunya selalu menjawab jika Dewi mau bertemu ibunya Dewi harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Motivasi inilah yang selalu membuat Dewi semangat belajar menempuh pendidikkannya. Tak heran di bangku sekolah prestasi sangat membanggakan.
Di saat usianya memasuki bangku kuliah biarawati itu memanggilnya pada suatu kesempatan. Awalnya pembicaraan keduanya yang terkesan ringan berakhir pada obrolan serius. Pertanyaan demi pertanyaan yang terus berkecamuk dalam benak Dewi tentang ibu dan ayahnya akhirnya terjawab. Sang biarawati menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Bagai disambar petir Dewi merasa sangat terpukul ketika mengetahui sang ibu kandungnya ternyata meninggal dunia pasca melahirkannya. Jiwanya sangat terpukul.
Sejak itu sikap Dewi mulai berubah. Dia yang tadinya semangat dan ceria berubah menjadi pemurung. Jiwanyapun berontak memprotes perlakuan alam terhadap dirinya. Sejak itu pula dia berubah penampilannya yang awalnya feminin menjadi seorang gadis tomboi.
Beruntung tantenya sang biarawati secara terus menerus membujuknya untuk tetap melanjutkan pendidikkannya. Alhasil Dewi berhasil menyandang gelar Magister dan mengabdi pada salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Kini Dewi telah menikah dan memiliki anak. Selain bekerja di rumah sakit Dewi memiliki usaha sampingan di rumahnya.
Kerinduan Dewi terhadap sang ibu kandung akhirnya terjawab juga. Dewi mendapat kesempatan mengunjungi makam ibunya di ujung selatan Sumatera. Sayangnya dia hanya menemukan unggukan tanah makam ibunya sementara ayahnya entah ke mana. Hingga kini Dewi masih menyimpan kerinduan.
Dewi melampiaskan kerinduan di makam ibunya, melampiaskan tangisnya bahkan membaringkan tubuhnya sendiri di atas makam ibunya untuk kemudian makam itu dipeluknya hingga dia sendiri tertidur.
Dewi terbangun ketika seseorang membisikannya "Dewi bangun, kamu tugas pagi nak". Dia mencari arah suara itu namun tak melihat sosok itu. Dewi meyakini suara itu berasal dari ibunya. Dewipun kembali ke Jakarta menjalani profesinya sebagai seorang dokter ahli bedah dan berkumpul bersama keluarganya dalam suka dan duka.
###Kekurangan bukanlah suatu alasan untuk tidak melangkah maju meraih prestasi.####
Terima kasih bu sudah mengijinkan saya share kisah perjalanannya.Ibu sudah sangat beruntung. Masih banyak insan lain yang belum mendapat kesempatan emas seperti ibu
Sabtu, 29 Februari 2020
Kamis, 27 Juni 2019
Berpuasa Itu Indah
By : Ani Paga
Tahun 2010 ketika menjalankan medical check up di rumah sakit Santa Elisabet kota Bekasi suami saya disarankan dokter internis yang merawatnya untuk menjalankan puasa.
Suamiku hanya diperbolehkan menenggak minuman air mineral sebanyak 1 liter bahkan lebihpun diperbolehkan. Reaksi suamiku yang berkulit kuning langsat langsung berubah menjadi merah. Suami saya agak terkejut dan stress mendengar saran Dokter itu. Kata PUASA merupakan satu hal yang belum pernah dilakukannya. Dengan sabar aku meyakinkannya dan mengajaknya melakukan puasa.
Kutuntun suamiku menuju Kapel kecil Santa Elisabeth yang berlokasi di belakang rumah sakit Elisabeth milik biarawati.
Di dalam kapel itu saya menyuruh dia berdoa Rosario di depan altar. Ketika dia sedang khusuk berdoa saya membisikkan satu kalimat pada telinganya “ Mintalah Tubuh dan Darah Yesus sebagai santapan rohanimu siang ini” demikian saranku padanya. Entah mengapa kalimat itu begitu mendadak mampir dalam hatiku.
Usai berdoa Rosario aku menanyakan suamiku apa yang terjadi. Puji Tuhan dia mengalami mujizat yang luar biasa. Rasa lapar dan haus yang awalnya menyiksanya kini berubah menjadi kenyang dan dia terlihat lebih segar.
Beberapa waktu kemudian kami kembali ke lobby Rumah sakit. Sembari menunggu terapi selanjutnya kami membeli buku bacaan dan membacanya hingga sore hari. Rasa sakit yang mendera tubuhnya berangsur pulih. Dokter yang merawatnyapun tersenyum melihat semangatnya berpuasa. Sayapun menceritakan mujizat yang dialaminya pada dokter itu.
Sejak kejadian itu, saya sendiri mulai melatih diri saya berpuasa. Setiap pagi hari saya saya selalu berdoa Rosario meminta kekuatan Tuhan. Awalnya saya hanya mutih (makan nasi putih dan minum air putih) sembari berdoa. Lagi-lagi kalimat “Tuhan kenyangkanlah aku dengan Tubuh dan Darah SuciMu yang kudus” menjadi doaku ketika rasa lapar dan haus menggodaku.
Puasa Prapaskah tahun berikutnya saya mencoba menjalankan puasa penuh. Setiap kali rasa lapar menghantuiku aku kembali berdoa agar setan yang menggangguku dijauhkan dariku dengan kekuatan tongkat serta tubuh darah suci Yesus. Alhasil aku berhasil puasa tidak makandan minum sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 18.00 di sore hari.
Tidak hanya puasa tidak makan dan minum, sayapun bisa mengendalikan emosi saya untuk tidak marah, benci, dendam pada orang lain. Adanya Kemauan dan Kekuatan yang berasal dari diri sendiri merupakan kunci sukses berpuasa. Satu saja pertanyaan saya saat itu mengapa saudara kita yang lain bisa menjalankan puasa dan mengapa kita tidak.
Ternyata tidak ada kata TIDAK BISA jika benar-benar kita bertekad menjalankan puasa. Dan satu hal yang perlu dilakukan Jangan Lupa Berbagi Dengan Saudara Kita yang kekurangan meski kita sendiripun sedang mengalami kesulitan.
Memberi dari kekurangan tidak akan membuat kita Kekurangan.
Doa yang paling ampuh ketika kita dalam kondisi sedang lapar dan haus.
Selamat menjalankan puasa Prapaskah 2017 semoga bermanfaat.
Tabe (Salam khas Manggarai Flores)
Langganan:
Postingan (Atom)
Cear Cumpe; Narasi Syukuran Kelahiran Anak Dalam Budaya Manggarai
Catatan pojok budaya Ani Paga Jarum jam menunjukkan angka 9 am. Pemimpin upacara adat menyambut hadirin dengan menyodorkan sebo...
-
Catatan Rengkampong Ani Paga Saat Sebeth Lasarpandang baru saja membuka media sosial, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan b...
-
Catatan pojok budaya Ani Paga Jarum jam menunjukkan angka 9 am. Pemimpin upacara adat menyambut hadirin dengan menyodorkan sebo...
-
By : Ani Paga Usai seharian melintasi dan mendapat tugas seorang diri di Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara aku memutuska...