Rabu, 02 Maret 2022
Kepala Burung; Siapa Yang Punya
Selasa, 18 Januari 2022
Terbang Di Angkasa Dalam Posisi Pesawat Udara Miring? kendalikan Kepanikanmu
Catatan Perjalanan Ani Paga
Beruntung baksonya telah dilahap habis ketika gaungan sirene membahana pertanda pesawat yang akan mengangkut kami ke Makasar akan tiba. Ah aku menghabiskan segelas minuman teh manis hangatku.
Temanku menggendong ransel, mendesakku segera angkat kaki. Yoi, let's go to fly.
seperti biasa kami melewati pemeriksaan X Ray di gedung terminal. Lagi-lagi senyum cantik sang petugas perempuan disodorkan pada kami. Tak ketinggalan petugas priapun ikut sibuk memeriksa kami.
Taraaaa
Kamipun lolos masuk ke waiting room terminal bandara Tampa Padang Mamuju..
Pesawat yang ditunggupun menampakkan batang hidungnya di runway kemudian menampilkan lekukan tubuhnya menari menuju taxi way. 30 menit kemudian panggilan boardingpun bergema di waiting room memanggil para penumpang menuju Makasar.
Di gate 1 boarding pass kami diperiksa. Kami mengayunkan langkah menuju pintu pesawat kemudian mencari tempat duduk sesuai seat number yang tertera dalam boarding pass.
Waktu take offpun akan tiba. Pramugari terlihat huru-hara menutup pintu pesawat. Pengumuman dari cockpitpun terdengar tak lazim; sangat tergesa-gesa.
Pesawat kami akhirnya lepas landas dan terbang bebas. Baru saja 15 menit mengangkasa kami merasakan sesuatu yang aneh. Pesawat kami terbang oleng dan miring ke kanan kemudian berputar balik menuju bandara Tampa Padang Mamuju.
Para penumpang tentu saja panik dan berteriak histeris. Guncangan burung besi itu menakutkan. Suasana dalam cabin sangat mencekam.
Aku berusaha mengendalikan kepanikanku dengan menarik rosario dari dalam hand bagku. Butir demi butir aku panjatkan hingga menyelesaikan butiran pada peristiwa kelima Aku meminta sabda Tuhan atas permohonanku.
"Jangan takut Ani, pesawat ini masih bisa diperbaiki dan diterbangkan kembali" demikian bisikkan Tuhan yang hadir melalui suara hatiku. Tentu saja, sabdanya membuat aku tenang dan kepanikanku bisa kukendali.
Aku tengadah dan melemparkan pandanganku keluar jendela, bentangan alam pegunungan di luar sana yang indah ikut mendukung proses pengendalian kepanikanku. Kendati demikian sempat terbersit jika saja pesawat kami mengalami ✈airplane crash bisa dibayangkan anggota tubuh kami terserak di antara tebing curam dan menembus dataran rendah. Ahhh sangat menyeramkan. Oh no.
Aku kembali mengarahkan kedua bola mataku pada seluruh sudut ruang cabin. Suasana mencekam dengan histeria penumpang masih menggema. Aku berhasil menenangkan penumpang di sampingku dari kepanikkannya.
Terdengar pengumuman terjadi kerusakan teknis pada salahsatu mesin pesawat tipe ATR 72 itu.
Aku terus mengamati laju pesawat menuju Mamuju. Akhirnya kamipun berhasil mendarat di Bandara Tampa Padang. Kamipun berhamburan keluar dari body pesawat.
Di waiting room terminal kami kembali berkumpul menenangkan diri sembari menanti pesawat pengganti yang menerbangkan kami menuju Makasar.
Sementara pesawat itupun diperbaiki dan puji Tuhan pesawat itu kembali diterbangkan menuju Balikpapan. Seorang penumpang perempuan memutuskan batal terbang bersama kami. Dia memilih kembali ke rumahnya di kota Mamuju.
Kami menunggu pesawat pengganti dengan jenis yang sama menuju Makasar.
Agak lama kami menunggu. Pesawat itupun mendarat di bandara setempat. Di tengah sisa kepanikan yang melanda kami berusaha menenangkan diri dan kembali memasuki pesawat. Penampilan body pesawat memang terlihat lebih baik dari pesawat yang sebelumnya. Kamipun terbang mengangkasa sembari menikmati keindahan pantai dan alam pegunungan Sulawesi dan sukses landing di bandara Sultan Hasanudin Makasar.
Di bandara ini aku sempat menikmati sop konrow masakan khas Makasar. Maknyosnya dapat banget, enak di lidah.
Tak lama berselang kami diperintahkan segera hengkang dari restaurant kemudian melangkah menuju waiting room untuk selanjutnya kembali terbang menuju Jakarta menggunakan maskapai yang berbeda.
Tentu saja doa menjadi menu utama sebelum terbang. Puji Tuhan kamipun berhasil landing di bandara aero tropolis Soekarno Hatta Airport Cengkareng Jakarta.
The end✈️✈️✈️✈️✈️✈️
Kamis, 09 Desember 2021
Eksistensi Janda; Antara Peran Ganda Dan Rayuan Genit
Catatan Rengkampong Ani
Paga
Saat Sebeth Lasarpandang baru saja membuka media sosial, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan bunyi messenger yang membangkitkannya dari lamunan mengenang kembali almarhum suaminya. Seorang silent reader berjenis kelamin pria menyapanya, mengajaknya berkenalan. Tentu saja Sebeth tak langsung merespond tawarannya. Sebeth Lasapandang diam-diam menyingkap profil sang pria, menyelidiki aktifitasnya di media sosial. Pria berkulit putih, berambut lurus, berhidung mancung mirip pria timur tengah inipun terus mendesak Sebeth dengan berpura-pura berempati terhadap duka Sebeth kehilangan suami. Kalimat turut berduka citapun meluncur bebas dari mulut pria bertubuh jangkung ini Tentu saja, Sebeth memberi reward terhadap atensinya. Dari obrolan yang menarik keduanya sepakat untuk bertukar nomor kontak. Obrolanpun berlanjut di aplikasi whatsapp.
Dengan dalih mengajak Sebeth berbisnis pria beristeri ini meminta Sebeth Lasarpandang bertemu pada salahsatu restaurant bahkan beberapa kali dia berniat menyambangi Sebeth di tempat tinggal perempuan beranak satu ini. Sayangnya hingga tulisan ini diturunkan Sebeth belum memenuhi permintaannya bahkan bertemu dengannya tak dilayani Sebeth . Berbagai rayuan mautpun melayang ke arah Sebeth Lasarpandang, lagi-lagi peluru yang akan diberondongnya salah sasaran. Sebeth tetap bersikukuh untuk tidak bertemu dengannya. Alasan Sebeth sederhana saja; , menjelekkan isterinya sendiri di hadapan perempuan lain bukanlah suatu sikap elegan seorang pria yang berstatus suami orang yang digunakannya sebagai peluru untuk merayu perempuan lain. Sikapnya sangat tidak bijak. Alih-alih bisnis justru bertujuan lainpun, akhirnya berantakan. Sebeth memutuskan tidak berbisnis dengannya.
Seorang janda lainpun memiliki kisah yang tak jauh berbeda. Perempuan ini sebut saja namanya Mina Ringkikik mendapat rayuan seorang pria hidung belang yang masih berstatus suami orang. Mina janda cantik berbalut kulit putih bersih, berambut panjang ini bahkan diajak menikah seorang pria yang dikenalnya melalui salahsatu aplikasi media sosial. Mina akan dijadikannya sebagai isteri kedua dan menikah secara sirih. Pria ini mengaku memangku satu jabatan strategis di kantormya ternyata merupakan satu modus operandinya meraih cinta perempuan. Sejatinya pria ini tidak memiliki pekerjaan tetap. Tercatat deretan panjang perempuan dipacarinya dalam waktu bersamaan. Pria ini bahkan berani menjual janda ini pada pria muda untuk dijadikan teman free sex di akhir pekan. Tentu saja sikapnya demikian mendapat perlawanan dari Mina Ringkikik. Perempuan janda ini bersikap tegas melepaskan diri dari cengkraman lelaki itu. Komunikasi merekapun putus total
Rumah tangga merupakan
kelompok primer dan merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memainkan
peran penting terhadap dinamika kehidupan sosial. Suami dan isteri tentu saja
memiliki peran masing-masing. Suami yang berperan sebagai kepala rumah tangga,
mengayomi, melindungi keluarga menafkahi keluarga, menjadi imam keluarga
sementara isteri betanggungjawab pada peran domestic mengurus anak dan rumah ,
melayani kebutuhan suami namun seiring
meningkatkan kebutuhan ekonomi rumah tangga seorang perempuan dituntut bisa berperan
di luar rumah dengan berkarier di luar rumah. Ketika perceraian atau ditinggal
mati seorang perempuan menikah berubah status menjadi janda.
Seorang isteri yang tadinya berfungsi sebagai tulang rusuk pasangannya, saat ditinggal suami diapun harus menjadi tulang punggung keluarga. Bebannya berlipat ganda pada ruang domestic yang berkiprah pada seputar rumah dan extra domestica dengan berkarier di luar rumah . Seorang janda harus memainkan peran mencari nafkah untuk menghidupi anak-anaknya, menjadi pelindung, pendidik bagi masa depan anaknya, Berbagai carapun ditempuhnya mengerahkan seluruh kekuatannya demi kebahagiaan keluarga serta dirinya sendiri.Peran seorang jandapun menjadi sangat kompleks.
Tak jarang ketika menjalankan
peran extra domestica perempuan janda dihadapkan dengan stereotype negatif yang berdasarkan asumsi pribadi semata. Janda
seringkali berhadapan dengan stigma
buruk serta seksualisasi janda. Janda dianggap perempuan genit, murahan yang
haus belaian kasih sayang, layak dirayu bahkan dicurigai bakal sebagai pelakor
yang bisa merusak rumah tangga orang sehingga pantas dihindari, kehilangan
pasangan hidupnya dianggap sebagai sosok yang tidak sempurna, yang tidak
berdaya, gerak-geriknya kerapkali
dicurigai, kemudian dijadikan bahan pergunjingan para insan yang hoby bergosip
ria. Eksistensi janda seringkali mendapat pelabelan negatif dan dilihat menjadi obyek yang menarik, yang mudah
digoda, bahenol, janda bohay, dipandang hina bahkan pada kasus cerai hidup janda dikonotasikan sebagai sosok yang gagal
mencari solusi atas kisruh rumah tangganya. Konstruksi budaya yang demikian membuat
janda enggan bersuara, dia menelan pil pahitnya seorang diri.
Narasi negatif terhadap
janda acapkali berbuntut pada penempatan janda sebagai kaum termarjinal. Perlakuan
seperti ini tak jarang membuat janda kehilangan percaya diri, menarik diri dari
lingkungan sosial, serta kehilangan motivasi dalam hidupnya.Janda ah janda.
Dalam system yang
menganut budaya patriarki pada kasus tertentu janda yang tidak memiliki anak
cenderung mendapat perlakuan tidak adil
dari keluarga suaminya. keluarga suaminya memutuskan hubungan keluarga
dengannya. Perkawinannya yang semula dirajut secara hukum dihempas begitu saja..
Saya menemukan beberapa kasus seperti
ini pada beberapa perempuan janda yang hidup seorang diri setelah ditinggal
mati suaminya, janda tidak diberi akses
ekonomi untuk menguasai hak warisan orangtua suaminya.
Tidak semua pria
memberikan strereotype negative terhadap janda, seorang sahabat saya Martin W asal Papua yang merupakan magister jebolan
Eropah melihat janda yang ditinggal mati pasangan hidupnya sebagai sosok yang
hebat karena melewati sebuah proses hidup yang luar biasa. Sementara pada perceraian
dilihatnya sebagai kumpulan orang gagal
yang tidak mendapatkan solusi atas timpahan persoalan rumah tangga. Janda dipandangnya sebagai sosok hebat ; mampu menjalankan
dua peran sekaligus yakni peran domestic dan extra domestica. Secara fisik dan
mental dia melihat janda lebih stabil ketimbang pria. Dia memandang adanya a person triple job pada janda mandiri yakni bertanggungjawab
terhadap diri sendiri, anak dan masa depan anak. Di luar sana terdapat banyak
perempuan janda yang mampu hidup mandiri secara ekonomi, sosial politik,
Dikatakannya adalah perilaku minus oknum janda yang mengarah pada money oriented merupakan salasatu pemicu yang mengundang hadirnya stigmatisasi buruk terhadap janda. Martin tidak sepakat dengan pria hidung belang yang melihat stigma buruk sebagai exploitasi materil serta seksualisasi terhadap janda. Menurutnya lelaki harus membangun komunikasi serta interaksi yang memiliki nilai tambah secara psikologis. Take and give menjadi tanggungjawab bersama dengan demikian terjadi keseimbangan komunikasi. Seorang janda demikian menurut Martin harus meningkatkan kualitas secara personal, harus memiliki kecerdasan extra sebagai senjata menangkal stigmatisasi buruk.
Tindakan preventif
tentunya dibutuhkan untuk meminimalisir strereotype terhadap janda itu sendiri. Janda harus berani bermigrasi untuk keluar dari pelabelan negatif terhadap dirinya. Seorang janda asal Banten mengatakan janda lebih riskan terhadap godaan pria
hidung belang. Menghadapi godaan sosial seperti itu maka harga diri seorang
janda menjadi taruhan dan merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar, seorang
janda harus memperketat pengawasan terhadap dirinya sendiri, lingkungan akan aman
bilamana janda itu sendiri menempatkan dirinya secara proporsional.
Semoga bermanfaat
Senin, 29 November 2021
Ruteng; Kota Berhiaskan Wisata Alam Yang Eksotik. So What's?
Ruteng; Kota Berhiaskan Wisata Alam Yang Eksotik.
| Sawah berbentuk jaring laba-laba |
| Bamboo Forest in Kumba Ruteng |
| Ruteng in the night |
Podo Toko;
Sabtu, 29 Februari 2020
MELACAK JEJAK SANG MAMA KANDUNG
By : Ani Paga
Sore itu aku yang tengah.menunggu pastor untuk menerima sakramen pengakuan dosa di bangku panjang yang berjejer di halaman gereja tanpa sengaja mendapatkan seorang perempuan berambut lurus yang digunting pendek.
Beberapa ibu yang lainpun tampak duduk santai menunggu jadwal bertemu pastor.
Sebut saja Dewi nama ibu itu. Penampilannya sederhana, rada cuek bahkan dandanpun jauh dari sempurna. Polesan lipstikpun tak tampak menghiasi wajahnya yang cantik.
Dewi lahir di sebuah kota kecil tepatnya di ujung selatan pulau Sumatera. Kedua orang tuanya berpisah saat Dewi masih berada di dalam rahim ibunya. Entah faktor apa yang membuat orang tuanya berpisah hingga sekarang dia tak menemukan jawabannya. Bahkan sosok pria yang menjadi ayah biologisnya hingga kini tak pernah muncul dalam bayangannya. Sementara ibu kandungnya meninggal dunia pasca melahirkan Dewi. Dewi benar2 hidup sebatang kara.
Nasib Dewi masih beruntung. Sejak kecil namanya yang merupakan dewi keberuntungan Dewi diasuh seorang biarawati yang masih memiliki hubungan darah dengan ibunya.
Dewi mengikuti tempat tugas ibu pengasuhnya. Bersama sang biarawati, dia tinggal tak jauh dari rumah sakit tempat sang suster (nama panggilan biarawati) mengabdi.
Dewipun diberi pendidikkan yang layak. Dia menempuh pendidikkan di tingkat dasar hingga tingkat sarjana bahkan magister. Prestasi akademiknya terbilang sangat memuaskan.
Sejak usia SD Dewi selalu menanyakan keberadaan ibu kandungnya. Dia sangat merindukan akan pertemuan dengan sosok ibu yang melahirkannya. Suster yang selalu dihadapkan pertanyaan Dewi akan keberadaan ibunya selalu menjawab jika Dewi mau bertemu ibunya Dewi harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Motivasi inilah yang selalu membuat Dewi semangat belajar menempuh pendidikkannya. Tak heran di bangku sekolah prestasi sangat membanggakan.
Di saat usianya memasuki bangku kuliah biarawati itu memanggilnya pada suatu kesempatan. Awalnya pembicaraan keduanya yang terkesan ringan berakhir pada obrolan serius. Pertanyaan demi pertanyaan yang terus berkecamuk dalam benak Dewi tentang ibu dan ayahnya akhirnya terjawab. Sang biarawati menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Bagai disambar petir Dewi merasa sangat terpukul ketika mengetahui sang ibu kandungnya ternyata meninggal dunia pasca melahirkannya. Jiwanya sangat terpukul.
Sejak itu sikap Dewi mulai berubah. Dia yang tadinya semangat dan ceria berubah menjadi pemurung. Jiwanyapun berontak memprotes perlakuan alam terhadap dirinya. Sejak itu pula dia berubah penampilannya yang awalnya feminin menjadi seorang gadis tomboi.
Beruntung tantenya sang biarawati secara terus menerus membujuknya untuk tetap melanjutkan pendidikkannya. Alhasil Dewi berhasil menyandang gelar Magister dan mengabdi pada salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Kini Dewi telah menikah dan memiliki anak. Selain bekerja di rumah sakit Dewi memiliki usaha sampingan di rumahnya.
Kerinduan Dewi terhadap sang ibu kandung akhirnya terjawab juga. Dewi mendapat kesempatan mengunjungi makam ibunya di ujung selatan Sumatera. Sayangnya dia hanya menemukan unggukan tanah makam ibunya sementara ayahnya entah ke mana. Hingga kini Dewi masih menyimpan kerinduan.
Dewi melampiaskan kerinduan di makam ibunya, melampiaskan tangisnya bahkan membaringkan tubuhnya sendiri di atas makam ibunya untuk kemudian makam itu dipeluknya hingga dia sendiri tertidur.
Dewi terbangun ketika seseorang membisikannya "Dewi bangun, kamu tugas pagi nak". Dia mencari arah suara itu namun tak melihat sosok itu. Dewi meyakini suara itu berasal dari ibunya. Dewipun kembali ke Jakarta menjalani profesinya sebagai seorang dokter ahli bedah dan berkumpul bersama keluarganya dalam suka dan duka.
###Kekurangan bukanlah suatu alasan untuk tidak melangkah maju meraih prestasi.####
Terima kasih bu sudah mengijinkan saya share kisah perjalanannya.Ibu sudah sangat beruntung. Masih banyak insan lain yang belum mendapat kesempatan emas seperti ibu
Kamis, 27 Juni 2019
Berpuasa Itu Indah
Cear Cumpe; Narasi Syukuran Kelahiran Anak Dalam Budaya Manggarai
Catatan pojok budaya Ani Paga Jarum jam menunjukkan angka 9 am. Pemimpin upacara adat menyambut hadirin dengan menyodorkan sebo...
-
Catatan Rengkampong Ani Paga Saat Sebeth Lasarpandang baru saja membuka media sosial, tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan b...
-
Catatan pojok budaya Ani Paga Jarum jam menunjukkan angka 9 am. Pemimpin upacara adat menyambut hadirin dengan menyodorkan sebo...
-
By : Ani Paga Usai seharian melintasi dan mendapat tugas seorang diri di Kabupaten Tapanuli Selatan Provinsi Sumatera Utara aku memutuska...