Sabtu, 29 Februari 2020

MELACAK JEJAK SANG MAMA KANDUNG

MELACAK JEJAK SANG MAMA KANDUNG


By : Ani Paga

Sore itu aku yang tengah.menunggu pastor untuk menerima sakramen pengakuan dosa di bangku panjang yang berjejer di halaman gereja tanpa sengaja mendapatkan seorang perempuan berambut lurus yang digunting pendek.
Beberapa ibu yang lainpun tampak duduk santai menunggu jadwal bertemu pastor.

Sebut saja Dewi nama ibu itu. Penampilannya sederhana, rada cuek bahkan dandanpun jauh dari sempurna. Polesan lipstikpun tak tampak menghiasi wajahnya yang cantik.

Dewi lahir di sebuah kota kecil tepatnya di ujung selatan pulau Sumatera. Kedua orang tuanya berpisah saat Dewi masih berada di dalam rahim ibunya. Entah faktor apa yang membuat orang tuanya berpisah hingga sekarang dia tak menemukan jawabannya. Bahkan sosok pria yang menjadi ayah biologisnya hingga kini tak pernah muncul dalam bayangannya. Sementara ibu kandungnya meninggal dunia pasca melahirkan Dewi. Dewi benar2 hidup sebatang kara.

Nasib Dewi masih beruntung. Sejak kecil namanya yang merupakan dewi keberuntungan Dewi diasuh seorang biarawati yang masih memiliki hubungan darah dengan ibunya.

Dewi mengikuti tempat tugas ibu pengasuhnya. Bersama sang biarawati, dia tinggal tak jauh dari rumah sakit tempat sang suster (nama panggilan biarawati) mengabdi.
Dewipun diberi pendidikkan yang layak. Dia menempuh pendidikkan di tingkat dasar hingga tingkat sarjana bahkan magister. Prestasi akademiknya terbilang sangat memuaskan.

Sejak usia SD Dewi selalu menanyakan keberadaan ibu kandungnya. Dia sangat merindukan akan pertemuan dengan sosok ibu yang melahirkannya. Suster yang selalu dihadapkan pertanyaan Dewi akan keberadaan ibunya selalu menjawab jika Dewi mau bertemu ibunya Dewi harus menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Motivasi inilah yang selalu membuat Dewi semangat belajar menempuh pendidikkannya. Tak heran di bangku sekolah prestasi sangat membanggakan.

Di saat usianya memasuki bangku kuliah biarawati itu memanggilnya pada suatu kesempatan. Awalnya pembicaraan keduanya yang terkesan ringan berakhir pada obrolan serius. Pertanyaan demi pertanyaan yang terus berkecamuk dalam benak Dewi tentang ibu dan ayahnya akhirnya terjawab. Sang biarawati menceritakan kejadian yang sebenarnya.

Bagai disambar petir Dewi merasa sangat terpukul ketika mengetahui sang ibu kandungnya ternyata meninggal dunia pasca melahirkannya. Jiwanya sangat terpukul.

Sejak itu sikap Dewi mulai berubah. Dia yang tadinya semangat dan ceria berubah menjadi pemurung. Jiwanyapun berontak memprotes perlakuan alam terhadap dirinya. Sejak itu pula dia berubah penampilannya yang awalnya feminin menjadi seorang gadis tomboi.

Beruntung tantenya sang biarawati secara terus menerus membujuknya untuk tetap melanjutkan pendidikkannya. Alhasil Dewi berhasil menyandang gelar Magister dan mengabdi pada salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Kini Dewi telah menikah dan memiliki anak. Selain bekerja di rumah sakit Dewi memiliki usaha sampingan di rumahnya.

Kerinduan Dewi terhadap sang ibu kandung akhirnya terjawab juga. Dewi mendapat kesempatan mengunjungi makam ibunya di ujung selatan Sumatera. Sayangnya dia hanya menemukan unggukan tanah makam ibunya sementara ayahnya entah ke mana. Hingga kini Dewi masih menyimpan kerinduan.

Dewi melampiaskan kerinduan di makam ibunya, melampiaskan tangisnya bahkan membaringkan tubuhnya sendiri di atas makam ibunya untuk kemudian makam itu dipeluknya hingga dia sendiri tertidur.
Dewi terbangun ketika seseorang membisikannya "Dewi bangun, kamu tugas pagi nak". Dia mencari arah suara itu namun tak melihat sosok itu. Dewi meyakini suara itu berasal dari ibunya. Dewipun kembali ke Jakarta menjalani profesinya sebagai seorang dokter ahli bedah dan berkumpul bersama keluarganya dalam suka dan duka.

###Kekurangan bukanlah suatu alasan untuk tidak melangkah maju meraih prestasi.####

Terima kasih bu sudah mengijinkan saya share kisah perjalanannya.Ibu sudah sangat beruntung. Masih banyak insan lain yang belum mendapat kesempatan emas seperti ibu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cear Cumpe; Narasi Syukuran Kelahiran Anak Dalam Budaya Manggarai

Catatan pojok budaya Ani Paga Jarum jam menunjukkan angka 9 am. Pemimpin upacara adat menyambut hadirin dengan menyodorkan sebo...